RADARTASIK.ID – Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) mencetak rekor tertinggi sepanjang sejarah pada level 9.133 dengan volume transaksi harian yang mencapai Rp 35,9 triliun hingga penutupan perdagangan, Senin, 19 Januari 2026.
Euforia pasar semakin terlihat dengan likuiditas yang melimpah, didominasi oleh pergerakan saham-saham dari sektor konsumer, energi, dan beberapa emiten besar yang terus mencatatkan aksi korporasi.
Namun, di balik optimisme tersebut, ada beberapa tantangan besar yang dapat memengaruhi kelanjutan reli ini.
Baca Juga:Suspensi Saham POLA dan NSSS Dihentikan, Perdagangan Kembali Dibuka Mulai 20 Januari 2026AHM Hadirkan Layanan Service Gratis dan Bangun Sarana Air Bersih untuk Pemulihan Bencana di Sumatra
Sektor konsumer dan energi menjadi penggerak utama IHSG dalam mencatatkan all-time high.
Saham-saham yang terlibat dalam kedua sektor ini menunjukkan performa yang mengesankan, memperlihatkan optimisme pasar yang masih kuat meski dihadapkan pada berbagai faktor risiko.
Aksi korporasi besar juga turut memperkuat prospek pasar saham Indonesia, memberikan tambahan likuiditas yang semakin mempercepat pergerakan IHSG ke level tertingginya.
Namun, di tengah euforia tersebut, pasar saham Indonesia tidak bisa lepas dari tantangan.
Salah satu yang paling mengkhawatirkan adalah pelemahan nilai tukar rupiah yang mendekati level Rp 17.000 per dolar AS.
Ini menjadi perhatian serius, mengingat dampaknya terhadap stabilitas makroekonomi Indonesia, terutama dalam perdagangan internasional dan inflasi domestik.
Selain itu, ketidakpastian ekonomi global turut memberikan tekanan.
Dengan divergensi ekonomi yang semakin mencolok antara Amerika Serikat, China, dan Jepang, ekonomi dunia terancam berada di jalur yang tidak pasti.
Baca Juga:Head to Head Real Madrid vs AS Monaco di Liga Champions: Membuka Kembali Memori Kelam Masa LaluPrediksi Formasi Real Madrid vs AS Monaco: Alvaro Arbeloa Hadapi Tantangan Pertahanan di Liga Champions
Ketegangan geopolitik yang meningkat, terutama di kawasan-kawasan strategis, turut memperburuk prospek ekonomi global, memberikan dampak langsung pada sentimen investor.
Fokus dalam negeri kini tertuju pada keputusan Bank Indonesia (BI) mengenai suku bunga yang sangat krusial untuk menjaga stabilitas pasar keuangan.
Keputusan ini akan sangat memengaruhi sentimen investor domestik dan asing, yang tentunya berpengaruh pada pergerakan IHSG ke depan.
Suku bunga yang lebih tinggi mungkin dapat memperkuat nilai rupiah, tetapi juga berpotensi memperlambat laju pertumbuhan ekonomi.
Apakah Relinya Bertahan?
Meskipun IHSG berada di level tertinggi, banyak yang bertanya-tanya apakah reli ini akan terus berlanjut atau justru memasuki fase rawan koreksi.
Dengan kondisi eksternal yang semakin menantang dan keputusan suku bunga yang sangat dinanti, pasar Indonesia harus bersiap menghadapi kemungkinan adanya volatilitas yang lebih tinggi.
