99 Pemuda Dilantik Jadi Banser, Diklatsar Ke-8 GP Ansor Kabupaten Tasikmalaya Penuh Makna Spiritual

Banser Kabupaten Tasikmalaya
Sebanyak 99 pemuda resmi dikukuhkan sebagai anggota baru Barisan Ansor Serbaguna (Banser) setelah dinyatakan lulus Pendidikan dan Pelatihan Dasar (Diklatsar) ke-8 Satuan Koordinasi Cabang (Satkorcab) Banser Kabupaten Tasikmalaya. (Istimewa For Radartasik.id)
0 Komentar

TASIKMALAYA, RADARTASIK.ID – Sebanyak 99 pemuda resmi dikukuhkan sebagai anggota baru Barisan Ansor Serbaguna (Banser) setelah dinyatakan lulus Pendidikan dan Pelatihan Dasar (Diklatsar) ke-8 Satuan Koordinasi Cabang (Satkorcab) Banser Kabupaten Tasikmalaya.

Kegiatan tersebut berlangsung selama tiga hari, mulai 16 hingga 18 Januari 2026, bertempat di Pondok Pesantren Ansoriyah, Kecamatan Bojonggambir.

Prosesi pengukuhan berlangsung khidmat dan penuh semangat kebangsaan. Para peserta merupakan hasil seleksi dari 112 pendaftar yang berasal dari berbagai kecamatan di Kabupaten Tasikmalaya.

Baca Juga:Sekda Kabupaten Tasikmalaya Jadi Staf Ahli, Bupati Lakukan Rotasi dan Mutasi 24 PejabatGP Ansor Kabupaten Tasikmalaya Kuatkan Kader, Gelar Konsolidasi Organisasi di Enam Zona

Setelah mengikuti seluruh rangkaian pelatihan fisik, mental, kedisiplinan, serta pembekalan ideologi ke-NU-an dan kebangsaan, hanya 99 orang yang dinyatakan mampu menyelesaikan Diklatsar hingga tuntas.

Ketua Pimpinan Cabang Gerakan Pemuda (PC GP) Ansor Kabupaten Tasikmalaya, Fahmi Siddiq, menyampaikan apresiasinya atas capaian tersebut. Menurutnya, angka 99 memiliki makna tersendiri bagi Ansor dan Banser.

“Angka 99 ini bukan sekadar jumlah peserta yang lulus, tetapi memiliki nilai spiritual yang kuat. Ia identik dengan Asmaul Husna dan simbol angka sembilan yang sangat lekat dalam tradisi Nahdlatul Ulama,” ujar Fahmi.

Ia menegaskan bahwa proses kaderisasi di tubuh GP Ansor dan Banser tidak berorientasi pada jumlah semata, melainkan pada kualitas, militansi, serta komitmen kader dalam menjaga nilai-nilai keislaman, keindonesiaan, dan ke-NU-an.

Diklatsar kali ini juga mencuri perhatian karena keberagaman usia pesertanya. Rentang usia peserta terbilang ekstrem, mulai dari yang termuda berusia 12 tahun hingga peserta tertua yang telah berusia 69 tahun.

Meski berbeda usia, seluruh peserta ditempa dalam disiplin yang sama dan menunjukkan semangat serta ketangguhan selama mengikuti pelatihan.

Kepala Satkorcab Banser Kabupaten Tasikmalaya, Acep Sirojul Bahrul Ulum atau yang akrab disapa Acep Siroj, menekankan bahwa Banser adalah garda terdepan dalam menjaga ulama, pesantren, dan keutuhan Negara Kesatuan Republik Indonesia (NKRI).

Baca Juga:Anggota DPRD Kabupaten Tasikmalaya Aldira Yusup Soroti Penutupan Tambang Emas: WPR Belum Dirasakan Rakyat!Anggota DPRD Jabar Arip Rachman Salurkan 2.500 kWh Listrik Gratis untuk Warga Kurang Mampu di Tasikmalaya

“Menjadi Banser berarti siap secara fisik dan mental. Mental Banser harus kuat dan tangguh. Dalam kondisi apa pun, Banser harus berdiri di garis depan untuk membela kiai, ulama, pesantren, serta menjaga NKRI,” tegasnya dia.

Pemilihan Pondok Pesantren Ansoriyah sebagai lokasi kegiatan juga memiliki nilai historis tersendiri. Pimpinan Pesantren Ansoriyah, Aang Ari Hilman, menyampaikan bahwa pesantren tersebut memiliki ikatan emosional yang kuat dengan GP Ansor dan Banser.

0 Komentar