TASIKMALAYA, RADARTASIK.ID – Awalnya orang mengira ini hanya soal Wali Kota Tasikmalaya Viman Alfarizi Ramadan yang berhalangan. Ternyata bukan.
Pengajian Ahad di Masjid Al Manar itu kembali digelar dengan niat baik. Undangannya jelas. Resmi. Ditujukan kepada Wali Kota Tasikmalaya, Viman Alfarizi, untuk menjadi narasumber. Waktunya sudah lama disiapkan. Hampir sebulan.
Wali kota tidak datang. Baiklah. Itu masih bisa dimengerti. Kepala daerah punya banyak agenda. Selalu ada alasan. Selalu ada rapat. Selalu ada urusan.
Baca Juga:Muhammadiyah Mengundang, Wali Kota Tasikmalaya Menghilang!Pemkot Tasikmalaya Jajaki Hibah Bus dan Aset DKI, Diky Candra: Tinggal Surat Resmi
Tapi yang membuat dahi sedikit berkerut adalah ini: yang mewakili juga tidak datang.
Padahal di agenda kegiatan, nama sudah tertulis jelas: Kabag Kesra Kota Tasikmalaya, Asep Dudi. Nama ada. Orangnya tidak. Di situlah pertanyaan mulai bermunculan.
Bukankah seorang Kabag Kesra adalah pejabat yang justru paling relevan hadir di pengajian? Bukankah urusan keagamaan adalah salah satu tugas intinya? Bukankah ia berada di garis depan hubungan pemerintah dengan masjid, ulama, dan umat?
Kalau wali kota berhalangan, mestinya Kabag Kesra-lah yang berdiri paling depan. Tapi ia tidak datang.
Maka ini bukan lagi sekadar soal absensi. Ini soal kepatuhan struktural. Soal bagaimana instruksi bekerja di dalam pemerintahan.
Jika benar wali kota telah menunjuk Kabag Kesra sebagai perwakilan, lalu perwakilan itu tidak hadir tanpa penjelasan, maka pertanyaannya sederhana: instruksi wali kota itu berlaku atau tidak?
Fungsi Kabag Kesra sebenarnya sangat strategis. Ia membantu Sekretaris Daerah dan kepala daerah dalam urusan kesejahteraan rakyat.
Baca Juga:Bulan Rajab, Kadisdik Rojab!Parkir Tanpa Karcis Bocorkan PAD, Mahasiswa Soroti Lemahnya Pengawasan Dishub Kota Tasikmalaya
Mulai dari sarana peribadatan, peringatan hari besar keagamaan, kerukunan umat beragama, pemberdayaan lembaga keagamaan, hingga hibah dan bansos. Bahkan pembinaan mental dan reformasi birokrasi pun ada di dalamnya.
Singkatnya: inilah pejabat yang seharusnya paling rajin hadir di masjid. Apalagi Asep Dudi bukan orang asing dalam lingkungan keagamaan Tasikmalaya.
Ia adalah anak seorang kiai besar. Ayahnya dikenal luas sebagai tokoh yang selalu mengedepankan nilai toleransi, dialog, dan komunikasi. Datang tepat waktu. Memberi kabar jika berhalangan. Menghormati undangan, sekecil apa pun. Nilai-nilai itu, rupanya, tidak ikut hadir di Masjid Al Manar Ahad itu.
