TASIKMALAYA, RADARTASIK.ID – Akhirnya ada penjelasan. Setelah kursi itu kosong di Masjid Al Manar, setelah pengajian Ahad Muhammadiyah berjalan tanpa kehadiran wali kota maupun perwakilannya, Kabag Kesra Kota Tasikmalaya, Asep Dudi, angkat bicara.
Ia memang tercantum sebagai pihak yang diutus mewakili Wali Kota Tasikmalaya, Viman Alfarizi Ramadhan. Tapi Ahad itu, namanya hanya hadir di agenda. Bukan di masjid.
Menurut Asep Dudi, ketidakhadirannya bukan karena mengabaikan undangan. Ada keadaan keluarga yang memaksanya berada di luar kota.
Baca Juga:Modus Numpang Buang Sampah, Motor Warga Kota Tasikmalaya Dibawa Kabur Orang Tak DikenalMusda V PUI Kota Tasikmalaya Soroti Penertiban Wakaf dan Pentingnya Kekokohan Integritas
“Abdi uih ti luar kota. Aya wargi nu nuju dirawat di rumah sakit, janten aya kendala di jalan, sareng kasiangan sumping ka acara,” ujar Asep Dudi, menjelaskan.
Ia mengaku tetap berupaya datang ke Masjid Al Manar. Namun waktu tidak berpihak. Saat ia tiba, acara telah usai.
“Abdi nuju ka Al Manar bade nepangan pengurus, nanging tos uih,” katanya.
Yang tersisa hanyalah masjid yang kembali lengang. Jamaah telah pulang. Pengajian telah selesai.
Meski begitu, Asep Dudi menegaskan bahwa komunikasi tetap ia lakukan.
Ia menyebut telah menjalin komunikasi dengan Ustaz Dede Habib, Wakil Ketua Pimpinan Daerah Muhammadiyah.
“Alhamdulillah tos komunikasi ka pangersa Ustaz Dede Habib, wakil PD Muhammadiyah. Abdi tos sasadu ka anjeuna oge parantos ngadugikeun ka anjeuna,” ucapnya.
Permohonan maaf, kata Asep Dudi, sudah disampaikan secara langsung melalui jalur komunikasi tersebut.
Baca Juga:Gerakan Warga Sukanagara Kota Tasikmalaya Jaga Sungai Cihideung Jadi Percontohan, Mengapa? Wali Kota Tasikmalaya Tak Datang, Kabag Kesra yang Tidak Patuh!
Klarifikasi ini menutup satu bagian dari polemik. Setidaknya, ada penjelasan. Setidaknya, ada upaya menyapa meski terlambat.
Namun seperti biasa, dalam urusan publik, waktu sering kali lebih menentukan daripada niat.
Sebab yang dinanti jamaah bukanlah klarifikasi setelah acara, melainkan kehadiran saat acara berlangsung.
Pengajian Ahad itu sudah berlalu. Kursi narasumber sudah kosong sejak pagi. Klarifikasi datang belakangan, ketika masjid kembali hening.
Dan dalam relasi antara pemerintah dan warga, kadang yang tertinggal bukan soal alasan, melainkan rasa.
Rasa bahwa datang tepat waktu adalah bagian dari amanah. Rasa bahwa mewakili pemimpin berarti hadir, bukan sekadar berniat hadir. Selebihnya, publik akan menilai sendiri. (rezza rizaldi/red)
