TASIKMALAYA, RADARTASIK.ID — Di tengah tren peningkatan kasus kekerasan terhadap perempuan dan anak, Fatayat Nahdlatul Ulama (NU) Kota Tasikmalaya memilih memperkuat jalur edukasi dan pencegahan.
Isu ini menjadi agenda utama kepengurusan PC Fatayat NU Kota Tasikmalaya masa khidmat 2024–2029.
Ketua PC Fatayat NU Kota Tasikmalaya, Nunun Nuraeni, M.Pd., menyebut dua tahun terakhir sebagai periode yang mengkhawatirkan.
Baca Juga:Pemkot Tasikmalaya Jajaki Hibah Bus dan Aset DKI, Diky Candra: Tinggal Surat ResmiBulan Rajab, Kadisdik Rojab!
Laporan dan cerita tentang kekerasan, termasuk kekerasan seksual, kian sering terdengar—baik di ruang formal maupun obrolan warga.
“Meningkatnya kasus kekerasan terhadap perempuan dan anak, termasuk kekerasan seksual, itu yang menjadi perhatian serius kami,” ujar Nunun di Gedung Dakwah, Sabtu (17/1/2026).
Sebagai respons, Fatayat NU Kota Tasikmalaya telah meluncurkan Women Crisis Center (WCC) pada Februari 2025.
Layanan ini menjadi pintu awal pendampingan, konsultasi, dan rujukan bagi korban.
Bukan dengan modal dana besar, melainkan dengan kekuatan jejaring dan kader.
“Kami bukan organisasi yang punya dana besar. Tapi kami punya anggota. Kekuatan kami ada di sumber daya manusia,” katanya.
Jaringan Fatayat NU yang bersentuhan langsung dengan pesantren, sekolah, dan majelis taklim dimanfaatkan untuk memperluas edukasi pencegahan.
Baca Juga:Parkir Tanpa Karcis Bocorkan PAD, Mahasiswa Soroti Lemahnya Pengawasan Dishub Kota TasikmalayaAntisipasi Luapan, Saluran Tersumbat di Kota Tasikmalaya Gencar Dibongkar Biar Air Mengalir
Metodenya beragam: seminar, diskusi komunitas, parenting class, hingga road show ke sekolah-sekolah di berbagai kecamatan Kota Tasikmalaya.
“Edukasi pencegahan kekerasan kami lakukan dengan cara yang dekat dengan masyarakat. Masuk ke sekolah, ke forum warga, ke majelis,” terang Nunun.
Di tingkat internal, Fatayat NU Kota Tasikmalaya juga mengoptimalkan peran LKP3A (Lembaga Konsultasi dan Perlindungan Perempuan dan Anak).
Lembaga ini berkolaborasi dengan UPTD PPA dalam edukasi dan advokasi, meski fokus utama tetap pada pencegahan.
“Pendidikan dan pencegahan itu yang paling bisa kami jangkau langsung,” bebernya.
Ketua PW Fatayat NU Jawa Barat, Hj. Minyatul Ummah, S.Pd.I., M.A., mengapresiasi langkah-langkah tersebut.
Menurutnya, Fatayat NU kini berada pada fase kedewasaan organisasi, bukan lagi sekadar menunjukkan eksistensi.
“Di usia hampir 76 tahun, Fatayat NU bukan mencari validasi. Ini masa menguatkan khidmat,” tuturnya.
