Ia menegaskan, di tengah dinamika zaman, peran KAHMI dan HMI justru semakin dibutuhkan. Menjadi penyeimbang. Menjadi pemberi masukan. Mengawal arah pembangunan, baik di daerah maupun di tingkat pusat.
Pagi itu, banyak nama hadir. Engkos Kosasih, Tabi’in, Abdullah Mansyur, Rudi Rusnandi, Abdul Haris, Asep Supri, Enan Suherlan, Dede Solahudin, Agung Zulviana, Anep Paoji, dan alumni lainnya. Sepeda mereka berbeda-beda. Jalan hidup mereka pun beragam. Namun pagi itu, semua mengayuh di jalur yang sama.
GOWES KAHMI mungkin hanya bersepeda santai. Tapi di balik kayuhan pelan itu, ada ingatan yang dirawat. Ada persaudaraan yang dijaga. Dan ada harapan agar kebersamaan ini terus bergerak, sejauh apa pun zaman berubah. (red)
