Warga Perbatasan Ciamis Belum "Merdeka", Tidak Merasakan Pemerataan Pembangunan 

Daerah perbatasan ciamis
Lalu lintas kendaraan saat melintasi perbatasan Kota Tasikmalaya menuju Desa Sukamulya, Kecamatan Cihaurbeuti, Kabupaten Ciamis, Jumat (16/1/2026). (Fatkhur Rizqi/Radartasik.id)
0 Komentar

CIAMIS, RADARTASIK.ID – Kabupaten Ciamis memiliki 27 kecamatan yang semestinya mendapat perhatian pembangunan secara merata, tidak hanya terpusat di Kecamatan Ciamis dan Kawali.

Ketimpangan pembangunan dikhawatirkan melemahkan rasa keadilan dan kedaerahan masyarakat, khususnya warga di wilayah perbatasan.

Sejumlah warga perbatasan Kabupaten Ciamis mengeluhkan minimnya dampak pembangunan yang mereka rasakan, terutama pada akses layanan dasar seperti kesehatan dan infrastruktur jalan.

Baca Juga:Sekda Kabupaten Tasikmalaya Jadi Staf Ahli, Bupati Lakukan Rotasi dan Mutasi 24 PejabatGP Ansor Kabupaten Tasikmalaya Kuatkan Kader, Gelar Konsolidasi Organisasi di Enam Zona

Warga Desa Sukamulya, Kecamatan Cihaurbeuti, Beti (33), mengaku hingga kini warga perbatasan Ciamis dengan Kota Tasikmalaya belum sepenuhnya menikmati hasil pembangunan daerahnya sendiri. Salah satu persoalan utama adalah jauhnya akses layanan kesehatan, khususnya ke Rumah Sakit Umum Daerah (RSUD) Ciamis.

“Saya pengalaman keluhkan akses kesehatan yang jauh ketika harus di bawa ke RSUD Ciamis. Akhirnya waktu melakukan lahiran dilarikan ke RSUD Kota Tasikmalaya,” katanya kepada Radar, Jumat (16/1/2026).

Ia menambahkan, kondisi tersebut juga berdampak pada proses administrasi layanan kesehatan, terutama penggunaan BPJS. “Setelah lahiran itu, akhirnya kalau mau klaim menggunakan BPJS kesehatan ribet. Sehingga tak mau ribet, akhirnya membayar,” tambahnya.

Beti berharap Pemerintah Kabupaten Ciamis dapat membangun RSUD di wilayah Cihaurbeuti agar pelayanan kesehatan lebih dekat dan mudah diakses masyarakat perbatasan. “Oleh karenanga perlu dibangun RSUD di Cihaurbeuti, seperti di RSUD Ciamis dan RSUD Kawali,” ujarnya.

Selain sektor kesehatan, warga juga menyoroti kondisi infrastruktur jalan yang masih memprihatinkan, baik jalan desa, kabupaten, provinsi, hingga jalan nasional. “Karena masih ada jalan yang rusak yang perlu diperbaiki,” katanya.

Keluhan serupa disampaikan Yoyo Sutarya (35), warga Desa Mekarsari, Kecamatan Tambaksari. Menurutnya, wilayahnya juga belum sepenuhnya merasakan pembangunan dari Pemerintah Kabupaten Ciamis, khususnya dalam hal akses kesehatan.

Ia menyebutkan jarak tempuh menuju RSUD Ciamis membutuhkan waktu sekitar satu jam perjalanan, yang menjadi kendala serius bagi warga saat kondisi darurat.

Baca Juga:Anggota DPRD Kabupaten Tasikmalaya Aldira Yusup Soroti Penutupan Tambang Emas: WPR Belum Dirasakan Rakyat!Anggota DPRD Jabar Arip Rachman Salurkan 2.500 kWh Listrik Gratis untuk Warga Kurang Mampu di Tasikmalaya

“Oleh karenanya, di sini perlunya fasilitas sarana dan prasarana seperti mobil untuk mengantarkan pasien, yang disediakan pemerintah desa ataupun pemerintah daerah Kabupaten Ciamis,” ujarnya.

Yoyo juga menyoroti keterbatasan infrastruktur penghubung antarwilayah di perbatasan Kabupaten Ciamis dengan Kabupaten Cilacap, Jawa Tengah. Hingga kini, warga masih harus menggunakan perahu untuk menyeberang dari Kecamatan Lakbok ke Kecamatan Wanareja.

0 Komentar