TASIKMALAYA, RADARTASIK.ID – Nama itu bukan kebetulan. Wahid. Dalam bahasa Arab artinya satu. Tunggal. Unik. Tidak berbilang.
Dalam Islam, Al-Wahid adalah salah satu Asmaul Husna. Yang Maha Esa. Tidak punya sekutu. Tidak tergantikan. Entah disengaja atau tidak, hidup H. Wahid berjalan seolah mengikuti makna namanya.
Kini, ia benar-benar menjadi orang nomor satu di PKB Kota Tasikmalaya. Ketua DPC. Puncak struktur partai di tingkat kota. Kursi yang tidak datang tiba-tiba. Kursi yang lama ditunggu. Kursi yang dirangkak dari bawah.
Baca Juga:Gelar Rakernas II, Himpunan Pengusaha Persis Teguhkan Tata Kelola Membangun Kemandirian Ekonomi JamiyahMohamad Zen Husnudzon!
Kita selalu tertarik pada orang yang naik tanpa suara keras. Wahid termasuk tipe itu. Tidak meledak-ledak. Tidak suka menonjolkan diri. Tapi pelan-pelan selalu naik satu tangga lebih tinggi.
Ia lahir di Tasikmalaya, 6 April 1978. Tumbuh dari jalur pendidikan agama:
SDN Sumelap I, lanjut ke MTs Al-Hikmah, lalu MA Cilendek. Jalur santri. Jalur yang membiasakan disiplin — dan kesabaran.
Organisasi menjadi sekolah keduanya. Bahkan mungkin sekolah utamanya. Tahun 1997, ia sudah memimpin PC IPNU. Sembilan tahun lamanya. Setelah itu menjadi Wakil Ketua Ansor. Lalu naik ke Wakil Ketua PCNU. Di politik, ia lama menjadi Wakil Ketua DPC PKB sebelum akhirnya kini memegang kendali penuh.
Hari ini, Wahid adalah Wakil Ketua DPRD Kota Tasikmalaya. Jabatan formal yang menuntut kehati-hatian. Tapi ia juga Ketua DPC PKB—jabatan politik yang menuntut ketegasan.
Dua peran yang sering berlawanan. Tapi sejauh ini ia memilih berada di titik tengah. Figur tengah. Tidak ekstrem. Tidak gaduh.
Ia aktif di media sosial. Bukan sekadar unggah foto. Tapi menjaga komunikasi. Menjaga jarak agar tetap dekat.
Ia juga mengurus sepak bola. Ketua Askot PSSI Tasikmalaya. Mengurus bola itu rumit. Banyak emosi. Banyak kepentingan. Tapi justru di sana karakter diuji. Karena sepak bola, seperti politik, tidak pernah sepenuhnya rasional.
Baca Juga:Rapor OPD 2025 di Pemerintah Kota Tasikmalaya: Beberapa Dinas Diberi Nilai Kosong oleh Publik!Rapor OPD 2025 di Pemerintah Kabupaten Tasikmalaya: Nilai Tinggi di Internal, Nilai Rendah di Mata Publik!
Yang menarik, sekarang orang mulai bertanya: Ke mana langkah Wahid berikutnya?
Ia sudah menjadi “yang satu” di partai.
Ia sudah duduk di pucuk legislatif sebagai pimpinan. Lalu apa?
