Di lini depan, Leao hanya sesekali meledak, tetapi salah satu aksinya menciptakan gol kedua Rabiot.
Adapun Nkunku yang mencetak penalti penyeimbang 1-1, dinilai berani meski masih mencari stabilitas performa.
Menariknya, keputusan memberi penalti pada Nkunku—bukan Leao— disebut 100% inisiatif Allegri, sebuah detail kecil yang berdampak besar pada jalannya laga.
Baca Juga:Media Spanyol Sebut Barcelona yang Membuat Real Madrid Runtuh, Pique Ejek Los Blancos di MedsosJurnalis Italia: AC Milan Incar Leon Goretzka karena Modric Belum Mau Perpanjang Kontrak
Menurut Sabatini, Allegri memainkan tiga sistem dalam satu pertandingan, taktik yang jarang dimiliki pelatih lain.
Sabatini menjelaskan bahwa Allegri memulai laga dengan sistem 4-3-1-2, sebuah formasi yang membuat timnya mampu menutup ruang antarlini.
Formasi ini memadatkan area tengah, meminimalkan celah yang bisa dimanfaatkan lawan, serta memberi keleluasaan gelandang serang untuk membaca posisi dan menghubungkan serangan.
Namun, ketika tim tertinggal dan membutuhkan dorongan ofensif, pola permainan itu berubah menjadi 4-3-3.
Dalam skema ini, Allegri berusaha memperlebar permainan, mengaktifkan kedua sayap, dan memaksa lawan bertahan lebih dalam.
Pergeseran ini juga meningkatkan jumlah pemain yang beroperasi di area kotak penalti, sehingga memperbesar peluang mencetak gol.
Selain itu, ada momen di mana Allegri memilih turun ke mode kontrol pertandingan saat kedudukan menjadi 1-1.
Baca Juga:Habiskan Rp850 Miliar untuk Dua Penyerang Baru, AS Roma Siap Lepas Paulo DybalaMedia Italia: Pio Esposito Senjata Rahasia Inter yang Tak Dimiliki Conte di Napoli
Pada fase tersebut, ia mengalihkan struktur tim menjadi 3-5-2 klasik, formasi yang memungkinkannya mendominasi ritme dan memanfaatkan kecepatan serangan balik Milan.
Dengan tiga bek sejajar dan sayap yang lebih dalam, Milan bertahan dengan rapat lalu melancarkan serangan balik yang terukur.
Menurut Sabatini, manuver taktis tiga wajah inilah yang membuat Allegri berhasil mematahkan taktik Fabregas yang ingin terus mendominasi permainan dengan meminta lapangan diperlebar satu meter.
Formasi terakhir itulah yang mengakhiri perlawanan Como dan mencerminkan gaya Allegri: disiplin, kompak, dan pintar mengeksekusi peluang.
Fullkrug dan Loftus-Cheek akhirnya masuk untuk membantu menjaga keunggulan, sementara Leao pergi dengan ekspresi keberatan—tanda masih ada perdebatan internal soal perannya di sistem Allegri.
Sabatini menutup tulisannya dengan menekankan Milan belum sempurna, tetapi pelan-pelan menunjukkan identitas baru: menderita, tapi menang.
Ia pun menegaskan bahwa Rossoneri kini kembali mampu menjaga persaingan dengan Inter yang berada di puncak klasemen, meski ujian terbesarnya tetap berada di lapangan.
