TASIKMALAYA, RADARTASIK.ID – Meja panjang. Penuh map. Berlapis angka. Itulah habitat Hj. Hesti Widiawati, S.E., M.M. Bertahun-tahun ia hidup di sana. Di Badan Pengelolaan Keuangan dan Aset Daerah (BPKAD) Kota Tasikmalaya.
Ia Sekretaris BPKAD. Jabatan yang tidak pernah ramai disebut. Tapi semua orang yang paham birokrasi tahu: di situlah nadi anggaran berdenyut. Uang daerah lewat situ. Aset daerah dicatat di situ. Salah sedikit, bisa gaduh setahun.
Hesti tahu itu. Maka ia bekerja dengan cara yang tidak banyak bicara. Tapi selalu hadir. Dalam rapat. Dalam penyusunan. Dalam pendampingan.
Baca Juga:Cheka Virgowansyah, Kini Mengurus Kepala Daerah dan Sekretaris Daerah se-Indonesia!Endang Juta Divonis 2 Tahun Penjara oleh Pengadilan Negeri Bandung, Lebih Ringan dari Tuntutan Jaksa
Ia sering terlihat mendampingi pejabat lain di acara-acara penting. Duduk agak ke belakang. Mencatat. Mengingatkan pelan-pelan.
Yang menarik, Hesti tidak hanya bicara soal angka. Ia juga bicara soal makna. Di beberapa kesempatan, ia menyampaikan pandangan tentang pentingnya pelestarian cagar budaya dan sejarah Kota Tasikmalaya. Ini unik. Jarang pejabat keuangan bicara sejarah. Biasanya sejarah dianggap tidak produktif secara anggaran.
Tapi Hesti melihatnya berbeda. Aset bukan hanya tanah dan bangunan. Aset juga ingatan kolektif. Aset juga jati diri kota.
Barangkali karena itu pula ia sering dipercaya memberi pernyataan soal kebijakan dan kinerja BPKAD. Bahasanya tenang. Tidak defensif. Tidak meledak-ledak. Seperti orang yang paham betul apa yang ia kerjakan.
Kini, Hesti dipindahkan. Diangkat menjadi Staf Ahli Bidang Pemerintahan, Hukum, dan Politik di Sekretariat Daerah Kota Tasikmalaya.
Ini bukan promosi yang gemerlap. Tapi strategis. Staf ahli adalah tempat berpikir. Tempat memberi masukan. Tempat mengingatkan sebelum keputusan diambil. Dengan latar belakang keuangan dan aset, Hesti membawa perspektif yang jarang: keputusan politik harus bisa dipertanggungjawabkan secara angka. Dan secara sejarah.
Tasikmalaya sedang bergerak. Banyak kepentingan. Banyak godaan. Di titik seperti ini, kota butuh orang-orang yang tidak silau. Hesti terbiasa bekerja dalam senyap. Tapi justru dari sanalah suara paling jujur sering lahir. (red)
