Mungkin karena itu pula ia memilih kata husnudzon — berprasangka baik. Terhadap takdir. Terhadap keputusan. Terhadap Tuhan. Terhadap hidup itu sendiri.
Bahasa Sunda yang Menenangkan. Coba baca lagi pelan-pelan kalimatnya:
“Mugia maslahat, barokah, salamet.”“Mugia anu terbaik.”
Tidak ada kata “mudah-mudahan saya kembali naik”. Tidak ada kata “ini sementara”. Tidak ada janji, tidak ada ambisi.
Baca Juga:Rapor OPD 2025 di Pemerintah Kota Tasikmalaya: Beberapa Dinas Diberi Nilai Kosong oleh Publik!Rapor OPD 2025 di Pemerintah Kabupaten Tasikmalaya: Nilai Tinggi di Internal, Nilai Rendah di Mata Publik!
Yang ada hanya satu: ikhlas. Ini jarang. Sangat jarang. Di saat banyak pejabat mengamankan posisi, Zen justru mengamankan batinnya. Dan Tasikmalaya Tetap Berjalan.
Pemerintahan akan terus bekerja. Program tetap berjalan. Rapat-rapat tetap digelar. Surat-surat tetap ditandatangani.
Bedanya hanya satu: kini Zen duduk di kursi yang berbeda. Tapi apakah manusia diukur dari kursi? Atau dari cara ia menerima ketika harus bergeser? Mungkin, di situlah martabat diuji.
Dan Zen — setidaknya dari kata-katanya — sudah lulus lebih dulu: ia tidak ingin menang dalam jabatan. Ia ingin menang dalam ketenangan. Air tetap mengalir. Dan Tasikmalaya — seperti biasa tetap punya cerita. (red)
