TASIKMALAYA, RADARTASIK.ID – Subuh itu, sebuah pesan pendek berbahasa Sunda datang secara pelan. Tidak heboh. Tidak dramatis. Hanya setenang air yang mengalir di sawah-sawah Singaparna selepas hujan.
“Pidu’ana. Dinten enjing dimutasi. Mugia maslahat, barokah, salamet,” tulis M Zen.
Lalu disambung lagi.
“Muhun pidu’ana, abdi janten Staf Ahli. Ngajalankeun sakumaha ngocor cai. Abdi husnudzon ka Alloh anu Maha Agung. Mugia anu terbaik. Barokah. Selamet dunya ahérat.” Begitu sederhana. Begitu tenang.
Baca Juga:Rapor OPD 2025 di Pemerintah Kota Tasikmalaya: Beberapa Dinas Diberi Nilai Kosong oleh Publik!Rapor OPD 2025 di Pemerintah Kabupaten Tasikmalaya: Nilai Tinggi di Internal, Nilai Rendah di Mata Publik!
Padahal, jabatan yang ditinggalkannya bukan jabatan kecil: Sekretaris Daerah Kabupaten Tasikmalaya. Panglima administrasi. Motor birokrasi. Orang yang sehari-hari memastikan mesin pemerintahan tidak batuk-batuk.
Tapi Zen memilih kata-kata yang sejuk. Tidak ada keluh. Tidak ada amarah. Tidak ada sindiran. Tidak ada pula kalimat: “Saya dizalimi,” yang biasa kita dengar ketika orang digeser dari lingkar pusat kekuasaan.
Ia justru menenangkan orang lain. Jabatan Itu Hanyalah Titipan. Saya jadi ingat adagium lama orang Sunda:
“Kalungguhan mah ukur titipan. Lamun datang ulah kabita. Lamun leungit ulah nalangsa.”-Jabatan datang jangan terlalu tergoda. Jabatan pergi jangan terlalu berduka.
Tidak semua orang bisa seperti itu. Banyak yang tidak rela turun satu anak tangga saja. Banyak yang tidak siap berpindah kursi. Bukan karena kehilangan pekerjaan — gaji tetap ada — tapi kehilangan “daya”. Kehilangan “cengkeram”.
Zen lain. Ia menulis: berjalanlah seperti air.
Air tidak pernah berebut tempat. Tapi selalu menemukan jalannya. Air tidak pernah menabrak batu dengan amarah. Ia hanya memeluk batu, lalu melingkarinya. Dan tetap sampai ke hilir.
Mutasi Itu Bahasa Lain dari Dinamika.
Di pemerintahan, mutasi itu seperti musim. Datang dan pergi. Bergiliran. Kadang jadi Sekda. Kadang jadi staf ahli. Kadang memegang kemudi. Kadang hanya memberi nasihat.
Baca Juga:Perempuan yang Menjaga Uang Kota Tasikmalaya Itu Pindah ke Ruang Pertimbangan!Cheka Virgowansyah, Kini Mengurus Kepala Daerah dan Sekretaris Daerah se-Indonesia!
Bagi sebagian orang, “staf ahli” itu terdengar seperti ruang tunggu. Seperti ruang transit. Bahkan seperti parkiran.
Tapi Zen tidak menuliskannya seperti itu. Ia justru seperti sedang berkata: “Di mana pun ditempatkan, selama masih bisa bermanfaat, ya jalani.”
