Media Spanyol Sebut Barcelona yang Membuat Real Madrid Runtuh, Pique Ejek Los Blancos di Medsos

Gerard Piqué
Gerard Piqué Foto: Tangkapan layar Instagram@3gerardpique
0 Komentar

RADARTASIK.ID – Hanya dalam tiga hari, Real Madrid berubah dari kubu yang penuh harapan menjadi tim yang porak-poranda.

Dalam rentang 72 jam pahit tersebut, Los Blancos kalah di final Piala Super Spanyol dari Barcelona, memecat pelatih Xabi Alonso, dan tersingkir memalukan dari Copa del Rey pada babak 16 besar.

Rentetan pukulan telak ini membongkar rapuhnya fondasi klub yang selama bertahun-tahun terbiasa menang dan mendominasi, namun kini tampak kehilangan arah.

Baca Juga:Jurnalis Italia: AC Milan Incar Leon Goretzka karena Modric Belum Mau Perpanjang KontrakHabiskan Rp850 Miliar untuk Dua Penyerang Baru, AS Roma Siap Lepas Paulo Dybala

Seperti disorot oleh media Spanyol Marca, drama Madrid dimulai dari Jeddah, tempat final Piala Super Spanyol menghadirkan mimpi buruk.

Madrid tumbang 3-2 dari rival abadinya, Barcelona, dalam duel yang berlangsung ketat hingga menit akhir.

Tim ibu kota menciptakan peluang, namun gagal menyamakan kedudukan hingga perpanjangan waktu.

Namun saat peluit akhir berbunyi, gambar paling ikonik justru terjadi setelah pertandingan: Xabi Alonso meminta para pemain memberi penghormatan kepada lawan, sementara Kylian Mbappé langsung berjalan menuju ruang ganti tanpa menoleh ke belakang.

Adegan itu menjadi simbol retaknya hubungan pelatih dan ruang ganti.

Keesokan harinya, kejutan besar datang. Meski Madrid masih menempati posisi kedua La Liga dan tetap bertahan di kompetisi Eropa, klub mengumumkan perpisahan “atas kesepakatan bersama” dengan Xabi Alonso.

Kalimat yang terdengar halus itu menyembunyikan fakta pahit bahwa proyek Alonso tak lagi mendapat keyakinan dari manajemen maupun pemain.

Catatan 24 kemenangan, 4 imbang, dan 6 kekalahan dalam 34 laga—cukup baik di atas kertas—tetap dipandang tak memadai untuk standar Real Madrid, terlebih dengan minimnya dukungan transfer dan gesekan internal yang makin terasa setelah Piala Dunia Antarklub.

Baca Juga:Media Italia: Pio Esposito Senjata Rahasia Inter yang Tak Dimiliki Conte di NapoliIntip Detail Gaji Robinio Vaz di AS Roma: Bonus Performa Capai Rp8,5 Miliar

Tanpa menunggu lama, tongkat kepelatihan jatuh ke tangan alumnus klub, Álvaro Arbeloa.

Hanya dalam 24 jam ia naik dari tim junior Castilla ke kursi pelatih utama, tanpa kesempatan beradaptasi.

Arbeloa muncul dengan narasi tegas: disiplin, kerja keras, dan tanpa rasa takut. Dalam sekejap, Madridista kembali memiliki secercah optimism.

Sayangnya harapan itu tak bertahan lama. Pada 14 Januari, di markas Albacete, semuanya runtuh lagi.

0 Komentar