TASIKMALAYA, RADARTASIK.ID — Pasar Purbaratu, Kota Tasikmalaya, sudah berdiri. Los dan kiosnya lengkap. Peresmiannya pun telah lewat.
Sayangnya, satu unsur penting belum juga hadir: pembeli.
Dari 18 los dan 8 kios yang tersedia, aktivitas perdagangan di pasar tersebut masih jauh dari kata bergairah.
Kondisi itu memantik perhatian Anggota Komisi II DPRD Kota Tasikmalaya, Enan Suherlan.
Baca Juga:Parkir Tanpa Karcis Bocorkan PAD, Mahasiswa Soroti Lemahnya Pengawasan Dishub Kota TasikmalayaAntisipasi Luapan, Saluran Tersumbat di Kota Tasikmalaya Gencar Dibongkar Biar Air Mengalir
Ia menilai pasar ini membutuhkan lebih dari sekadar bangunan dan seremoni.
“Harapan masyarakat itu sederhana. Ada intervensi, ada campur tangan pemerintah untuk mendesain solusi,” ujar Enan, Selasa (13/1/2026).
Menurutnya, pasar bukan monumen. Ia tidak cukup hanya dibangun, lalu dibiarkan menunggu nasib.
Yang dibutuhkan adalah desain menyeluruh —mulai dari konsep pengelolaan, akses, hingga alasan logis mengapa warga harus datang dan berbelanja.
Politisi Partai Amanat Nasional (PAN) ini juga menyoroti aspek aksesibilitas Pasar Purbaratu.
Meski kepemilikan kendaraan pribadi kian umum, kebijakan pendukung tetap dibutuhkan agar pasar mudah dijangkau dan terasa dekat bagi warga sekitar.
“Minimal radiasi dari lingkungan sekitar bisa mendatangkan orang ke pasar itu,” katanya.
Baca Juga:Tekan Volume Sampah Organik di TPA, DLH Kota Tasikmalaya Gandeng Pusat Perbelanjaan dan Peternak LokalPergantian Dandim 0612/Tasikmalaya, Tantangan Stabilitas Wilayah Menanti
Ia menegaskan, Pasar Purbaratu tidak bisa disamakan dengan pasar induk seperti Cikurubuk. Skala dan fungsinya berbeda.
Pasar wilayah semestinya hadir untuk kebutuhan harian warga sekitar —bukan justru membuat mereka tetap memilih belanja ke tempat lain.
Lebih jauh, Enan meminta pemerintah kota berhenti berspekulasi dan mulai melakukan investigasi serius. Ia mempertanyakan akar persoalan sepinya pasar tersebut.
“Harus diinvestigasi. Masalahnya di mana? Apakah sarana prasarananya, tata kelolanya, atau jenis dagangannya?” sarannya.
Baginya, peresmian bukan akhir cerita.
Fakta bahwa pasar masih sepi justru menjadi penanda bahwa ada persoalan mendasar yang belum dibereskan.
Enan juga menyinggung konsep pasar tematik yang kerap digaungkan.
Ia mengingatkan, konsep semenarik apa pun akan berujung gagal jika tidak berangkat dari kebutuhan nyata masyarakat.
“Bagus sebagai ide. Tapi harus dicek dulu, itu dibutuhkan atau tidak. Bukan hanya keinginan,” tegasnya.
Ia mencontohkan, pemerintah seharusnya memetakan kondisi sekitar pasar —apakah ada kawasan industri, pesantren, atau permukiman padat sebelum menentukan konsep dan jenis komoditas.
