RADARTASIK.ID – Polemik aturan offside baru yang dikenal sebagai “Hukum Wenger” terus memanas dan kini menghadapi penolakan besar dari dua institusi paling berpengaruh di sepak bola Eropa.
Menurut laporan The Times, baik FA (Asosiasi Sepak Bola Inggris) maupun UEFA sepakat bahwa ide revolusioner yang diajukan oleh mantan pelatih Arsenal, Arsène Wenger, terlalu ekstrem dan berpotensi mengubah wajah permainan secara drastis.
Wenger, yang kini menjabat sebagai Direktur Pengembangan Sepak Bola Global FIFA, mengusulkan aturan baru bahwa seorang pemain hanya dianggap offside jika seluruh tubuhnya berada di depan pemain bertahan.
Baca Juga:Gianluca Minchiotti: Juventus Akan Berada di Puncak Klasemen Jika Spalletti Datang Lebih CepatJurnalis Italia: AC Milan Wajib Waspadai Trik Fabregas yang Perlebar Lapangan Como 1 Meter
Artinya, selama satu bagian tubuh penyerang yang boleh mencetak gol masih sejajar atau berada di belakang pemain belakang, posisi tersebut dianggap onside.
Tujuan utama perubahan ini:
– Memberi keuntungan lebih kepada pemain menyerang
– Membuka ruang permainan
– Meningkatkan jumlah gol
– Mengurangi keputusan offside kontroversial yang dipicu millimeter teknologi VAR
– Namun gagasan ambisius tersebut justru memantik gelombang keberatan dari regulator sepak bola Eropa.
Di balik penolakan itu terdapat satu alasan mendasar: aturan baru berpotensi mengubah karakter permainan secara total, terutama di lini belakang.
Menurut FA, konsekuensi dari penerapan Hukum Wenger akan membuat bek harus bermain jauh lebih mundur untuk menjaga garis pertahanan mereka tetap aman.
Secara taktis, ini dianggap mengganggu keseimbangan alami antara menyerang dan bertahan, memaksa tim mengubah struktur permainan secara drastis dan berpotensi menghilangkan seni bertahan dan jebakan offside yang menjadi bagian integral permainan modern.
UEFA, yang mengelola kompetisi elite seperti Liga Champions, berada pada posisi yang sama.
Bagi mereka, aturan tersebut terlalu radikal untuk diterapkan sekaligus, terutama ketika sepak bola masih beradaptasi dengan era VAR.
Baca Juga:Jurnalis Italia: Sihir Spalletti Jadikan Juventus Tim Paling Tajam di Serie A, Conte Tahu Ia Dikerjai WasitRaspadori Membelot ke Atalanta, Ranieri: “Anak Itu Tidak Tertarik Gabung AS Roma”
The Times melaporkan bahwa FA dan UEFA kini mendorong versi kompromi, yakni: seorang pemain dianggap offside hanya jika bagian tubuh yang dapat digunakan untuk mencetak gol melampaui posisi terakhir pemain bertahan.
Dalam skema ini:
– Kepala, kaki, dan tungkai tidak lagi diperhitungkan secara detail
