Ketika laga memasuki menit 90, Ilkhan memecah kekecewaan Torino dengan sepakan penentu kemenangan.
Granata menutup pertandingan 3-2 dan meraih tiket perempat final untuk menantang Inter Milan di San Siro.
Namun, fokus publik bukan lagi sepenuhnya pada skor.
Di balik gol Arena, tersembunyi kisah perjalanan luar biasa.
Lahir di Sydney dari keluarga Italia asal Calabria, ia dibesarkan jauh dari atmosfer sepak bola Serie A.
Baca Juga:Robinio Vaz dan Donyell Malen, Bukti Direktur AS Roma Gagal Datangkan Striker Idaman GasperiniFiorentina Bajak Bek Inggris Incaran AC Milan, Direktur Juventus Pantau Langsung Oscar Mingueza
Seperti Christian Vieri di masa lalu, jalur hidup Arena berubah ketika bakat sepak bolanya terendus pemandu bakat Marco Arcese.
Dari tempat latihan taman di Australia, ia dibawa pulang ke Italia untuk memulai petualangan profesionalnya bersama Pescara.
Arena berkembang pesat dalam waktu singkat.
Pada Maret 2024, ia menjadi pemain pertama kelahiran 2009 yang mencetak gol di sepak bola profesional Italia, ketika Pescara menjamu Lucchese di Serie C—dan itu dilakukan pada debutnya.
Musim itu pula ia ikut merayakan promosi klub ke Serie B, meski hanya bermain sebagai pelapis.
Minat besar datang dari banyak klub, termasuk Sevilla, namun Pescara bergerak cepat menjaga asetnya.
Pada musim panas berikutnya, Roma menunjukkan keyakinan lebih kuat dari para pesaing.
Direktur olahraga Frederic Massara mengunci transfernya, memindahkan Arena ke ibu kota dan memasukkannya ke Primavera.
Baca Juga:Ditawar Rp85 Miliar, Bek Akademi Hajduk Split Ragu Gabung Inter MilanSiapa Robinio Vaz? Calon Striker Baru AS Roma Seharga Rp340 Miliar
Sejak saat itu langkahnya semakin besar. Bersama tim muda Roma, Arena mencetak 5 gol dari 12 pertandingan dan menunjukkan karakter yang lebih matang dari usianya.
Tak hanya soal insting mencetak gol, Arena dikenal memiliki kekuatan fisik, agresivitas, dan kemampuan berduel udara—karakter yang menjadikannya tipe “nomor 9 modern”.
Di level timnas, Arena termasuk tulang punggung Italia U-17 pada Piala Dunia November lalu di bawah Massimiliano
Favo. Dua gol dan dua assist yang ia sumbangkan berperan penting membawa Azzurrini mencapai peringkat ketiga, pencapaian terbaik Italia di turnamen tersebut.
Gol di Coppa Italia bukan sekadar torehan statistik. Itu adalah pernyataan.
Dalam satu lompatan ke udara di Stadion Olimpico, Antonio Arena menunjukkan bahwa masa depan Roma mungkin saja sudah datang lebih cepat dari yang diperkirakan.
