“Contohnya, apakah Pasar Purbaratu cocok jadi pasar ikan hias atau ikan koi. Pasar Padayungan ke elektronik, Pasar Cibeureum jadi pasar onderdil,” jelas Sofian.
Dengan konsep ini, konsumen diharapkan tak lagi datang ke pasar karena kebiasaan, melainkan karena kebutuhan spesifik. Setiap pasar punya alasan untuk dikunjungi.
Selain itu, pemerintah juga berencana menggandeng pedagang besar yang sudah mapan untuk ikut berinvestasi dan menghidupkan pasar yang sepi.
Baca Juga:Kepala Daerah Jangan Tertipu Laporan Manis, Karcis Parkir di Kota Tasikmalaya Muncul Jika DimintaTarget Ohan Hafiz Kota Tasikmalaya Belum Terpenuhi, Syarat Wajib Hafal 5 Juz Jadi Kendala
Secara administrasi, kios dan los Pasar Purbaratu sejatinya sudah memiliki pemanfaat, namun kelanjutan pemanfaatan tersebut akan dikonfirmasi ulang.
“Tiap pasar, kios itu sudah ada pemanfaatnya. Tapi harus dikonfirmasi lagi kelanjutannya seperti apa. Nanti kita tawarkan,” tukasnya.
Langkah lain yang disiapkan adalah menggencarkan kegiatan pendukung seperti event, expo, hingga pasar murah secara rutin.
Kegiatan ini diharapkan bisa menjadi umpan awal agar warga kembali melirik Pasar Purbaratu.
Sekadar mengingatkan, Pasar Purbaratu dibangun sejak 2020 dengan fasilitas 18 los dan 8 kios, dan baru diresmikan pada Juli 2024.
Saat awal dibuka, komunitas pedagang bahkan sempat turun langsung ke permukiman warga, door to door, untuk mempromosikan pasar tersebut.
Namun euforia itu tak bertahan lama.
Aktivitas perdagangan perlahan meredup hingga pasar nyaris tak beroperasi.
Sepinya Pasar Purbaratu bukan hanya soal lapak kosong, tapi juga soal PAD Kota Tasikmalaya yang ikut menguap.
Baca Juga:Suara Misterius dari Sumur Rumah Kosong, Damkar Kota Tasikmalaya Turun Tangan Selamatkan KucingBayar Parkir Rp2.000 Lebih Sakti dari Aturan, Dishub Kota Tasikmalaya Masih Adu Strategi di Lapangan
Kini tantangan pemerintah bukan lagi membangun gedung, melainkan membuktikan bahwa Pasar Purbaratu bukan sekadar monumen proyek, melainkan benar-benar pusat ekonomi rakyat. (ayu sabrina barokah)
