Mengenal Triple Bottom Line, Yang Membuat Bisnis UMKM Bertahan di Tengah Krisis Global

UMKM
Mengenal Triple Bottom Line, Yang Membuat Bisnis UMKM Bertahan di Tengah Krisis Global. Foto: Istimewa
0 Komentar

RADARTASIK.ID – Di tengah tekanan ekonomi global dan perubahan perilaku konsumen, konsep triple bottom line bisnis kini menjadi pendekatan strategis yang diam-diam mengubah cara perusahaan mengejar keuntungan.

Sebagaimana dilansir melalui kanal Link UMKM, pendekatan triple bottom line hadir sebagai kritik terhadap model bisnis lama yang menilai keberhasilan semata-mata dari laporan laba rugi tahunan.

Paradigma ini menegaskan bahwa keberhasilan bisnis sejati harus diukur dari keseimbangan antara kinerja finansial, dampak sosial, dan keberlanjutan lingkungan.

Baca Juga:Lebih Dekat Dengan Honor Win! HP Gaming Baterai 10.000 mAh yang Tetap Tipis dan Berperforma TinggiHarga Emas Rabu 14 Januari 2026 Bergerak Tipis, Ini Rincian Lengkap UBS, Antam, dan Galeri 24

Konsep ini pertama kali diperkenalkan oleh John Elkington pada 1994 sebagai respons atas meningkatnya ketimpangan sosial dan degradasi lingkungan akibat aktivitas industri.

Sejak saat itu, triple bottom line berkembang menjadi kerangka kerja penting dalam diskursus ekonomi berkelanjutan global.

Dimensi pertama adalah profit, yang tetap menjadi fondasi utama kelangsungan operasional sebuah perusahaan.

Namun, keuntungan dalam kerangka ini tidak lagi dimaknai sebagai hasil instan, melainkan sebagai nilai ekonomi jangka panjang yang beretika.

Perusahaan dituntut menghasilkan laba tanpa merusak ekosistem sosial maupun alam tempat mereka beroperasi.

Dimensi kedua adalah people, yang menempatkan manusia sebagai pusat dari seluruh aktivitas bisnis.

Aspek ini menegaskan bahwa kesejahteraan karyawan, komunitas lokal, dan konsumen merupakan aset strategis perusahaan.

Baca Juga:Huawei Enjoy 70X: Ketika Kelas Menengah Diberi Rasa Premium yang Lebih BeraniHonor Magic 8 Pro Air Unggulkan Kamera Profesional dengan Desain Ultra Tipis di Kelas Flagship 2026

Penerapan triple bottom line perusahaan mendorong terciptanya lingkungan kerja yang adil, inklusif, dan berorientasi pada pengembangan sumber daya manusia.

Perusahaan yang menghargai pekerjanya terbukti memiliki tingkat produktivitas dan loyalitas yang lebih tinggi.

Dimensi ketiga adalah planet, yang menyoroti urgensi pengelolaan dampak lingkungan secara bertanggung jawab.

Dalam konteks krisis iklim, perusahaan tidak lagi bisa mengabaikan jejak karbon dan eksploitasi sumber daya alam.

Efisiensi energi, pengurangan limbah, dan penggunaan bahan ramah lingkungan menjadi standar baru industri.

Konsep profit people planet dalam bisnis kini dipandang sebagai fondasi reputasi dan kepercayaan publik.

Konsumen modern semakin selektif dan cenderung mendukung merek yang memiliki nilai keberlanjutan.

Hal ini membuat tanggung jawab sosial dan lingkungan bisnis bukan lagi pilihan, melainkan kebutuhan kompetitif.

Perusahaan yang abai terhadap isu sosial berisiko kehilangan kepercayaan pasar dalam jangka panjang.

0 Komentar