Dari sisi metrik modern, Juve juga memproduksi peluang berkategori “harusnya gol” paling banyak dibandingkan rival mereka.
Artinya, permainan menyerang yang dibangun bukan sekadar spekulatif, tetapi benar-benar menghasilkan momentum mencetak gol.
Terakhir, faktor defensif dilindungi data serupa. Juventus hanya memberi lawan peluang mencetak gol paling rendah di Serie A.
Baca Juga:Raspadori Membelot ke Atalanta, Ranieri: “Anak Itu Tidak Tertarik Gabung AS Roma”Siapa Antonio Arena, Anak Ajaib 16 Tahun AS Roma yang Butuh 60 Detik untuk Cetak Gol di Olimpico
Data ini membuktikan bahwa Spalletti tidak sekadar meningkatkan serangan—ia juga membuat tim lebih rapat dan disiplin saat kehilangan bola.
di bawah Spalletti, Juventus bukan hanya tampil lebih meyakinkan, tetapi juga paling efisien, paling tajam, dan paling kokoh di seluruh Serie A.
Conte dan Amarah yang Menghasilkan Sanksi
Selain memuji Spalletti, Biasin menyorot momen panas Antonio Conte saat Napoli ditahan imbang Inter 2-2.
Ledakan kemarahan Conte kepada wasit, lengkap dengan teriakan dan hinaan, berujung kartu merah, serta hukuman larangan mendampingi tim selama dua laga plus denda.
Menurut Biasin, hukuman tersebut memicu perdebatan di Italia: sebagian menilai pantas, sebagian lagi menyebut berlebihan.
Namun sang jurnalis memberi konteks menarik.
Ia menyebut Conte tidak marah karena salah keputusan wasit, tapi ia justru sangat memahami aturan.
Biasin menduga pelatih Napoli itu sengaja menciptakan “kekacauan terukur”.
Baca Juga:Robinio Vaz dan Donyell Malen, Bukti Direktur AS Roma Gagal Datangkan Striker Idaman GasperiniFiorentina Bajak Bek Inggris Incaran AC Milan, Direktur Juventus Pantau Langsung Oscar Mingueza
Dalam pandangannya, Conte tahu bahwa membangun narasi “dikerjai wasit” kerap menjadi pembakar motivasi tim.
Dengan menciptakan konflik publik, tekanan emosional, bahkan rasa korban, ia menanamkan energi tambahan bagi skuadnya.
“Begitulah Italia, Jika teriakan ‘vergognatevi’ (malu kalian!) di TV hanya menghasilkan teguran ringan, kenapa Conte harus berhenti,” tulis Biasin.
Dan jika tren ini berlanjut, Serie A semakin mendidih di lapangan maupun pinggir lapangan.
Spalletti mengubah Juventus menjadi mesin penghancur yang haus menyerang, sementara Conte memainkan psikologi tempur demi mengangkat Napoli untuk berjuang mempertahankan scudetto.
