Faktanya, tidak pernah terlihat intens. Tidak pernah tampak bersama. Mereka hanya saling kenal karena sering bertemu di acara yang sama.
Cheka selalu menegaskan satu hal, ia tidak punya kepentingan politik lokal. Tidak punya konstituen. Tidak bermain proyek. Ia datang sebagai penjabat. Tugasnya memastikan sistem berjalan.
“Jangan samakan saya dengan wali kota definitif,” katanya.
“Saya tidak urusan proyek. Tidak urusan yang begituan.” tambahnya kala itu.
Baca Juga:Endang Juta Divonis 2 Tahun Penjara oleh Pengadilan Negeri Bandung, Lebih Ringan dari Tuntutan JaksaDari Bale Kota Tasikmalaya ke Pusat Peta Otonomi Daerah Kemendagri!
Saat menjadi Pj Wali Kota Tasikmalaya, Cheka menghadapi kota yang sedang bersiap menghadapi transisi kepemimpinan. Ia memilih satu prinsip sederhana: menjaga kapal tetap lurus.
Ia tidak mengejar popularitas. Ia mengejar stabilitas. Salah satu fokus awalnya adalah sampah—masalah klasik yang sudah bertahun-tahun membelit kota. Cheka tidak menjanjikan penyelesaian instan.
Ia memulai dari hulu, pemilahan, pengolahan, edukasi, hingga program turunan yang menyentuh ekonomi warga.
Langkah-langkah serupa ia lakukan saat mengemban tugas di Palembang. Pendekatannya konsisten: sistem dulu, hasil menyusul.
Cara kerja inilah yang kemudian dinilai oleh Mendagri Tito Karnavian. Bukan seberapa sering tampil, melainkan seberapa kuat fondasi yang ditinggalkan.
Kini, sebagai Dirjen Otonomi Daerah, Cheka akan berhadapan dengan ratusan kepala daerah dari seluruh Indonesia. Dari urusan pemekaran wilayah, kewenangan daerah, hingga pembinaan dan evaluasi pemerintahan daerah.
Jabatan ini bukan panggung populer. Kamera jarang menyorot. Tapi justru di sinilah denyut pemerintahan daerah ditentukan.
Baca Juga:Lurah dan Camat di Kota Tasikmalaya "Retret" Ke Pangandaran Tanpa APBD?Hati-Hati dengan Circle!
Pengalaman lapangan—berhadapan langsung dengan birokrasi daerah, politik lokal, dan ekspektasi masyarakat akan menjadi bekal utama Cheka.
Ia tahu betul, kebijakan pusat sering kali terdengar indah di kertas, tapi berat di lapangan.
Hari ini, mimpi itu bergeser skala. Dari kota ke negara. Cheka Virgowansyah melangkah ke ruang mesin pemerintahan.
Kini Cheka kembali ke Jakarta. Tapi bukan sebagai “orang pusat” yang turun ke daerah. Ia kini menjadi orang yang menentukan bagaimana pusat dan daerah saling memahami.
Kota Tasikmalaya mungkin hanya satu bab dalam perjalanan panjangnya. Tapi dari kota kecil itu, Cheka belajar bahwa otonomi bukan soal siapa paling keras bersuara. Melainkan siapa yang paling sanggup mengurus.
