Rektor Baru yang Membumi!

Rektor iai tasikmalaya
Rektor IAI Tasikmalaya, Ade Zaenul Muttaqien
0 Komentar

TASIKMALAYA, RADARTASIK.ID – Namanya panjang: Dr Ade Zaenul Muttaqien, S.Ag., M.Ag. Tapi orang Tasik jarang menyebut sepanjang itu. Cukup: Ade.

Dan kini Ade menjadi Rektor IAI Tasikmalaya. Sebelumnya ia Wakil Rektor I Bidang Akademik. Lebih jauh lagi: Ketua KPU dua periode.

Dua periode. Di jabatan yang paling sensitif. Di ruang yang penuh godaan.Tapi satu hal dari Ade tidak berubah:rekam jejaknya tetap lurus.

Baca Juga:Dua Kursi, Satu Nama dan Logika Sekda Kota Tasikmalaya yang Diuji Rasa Keadilannya!Hadapi Libur Panjang Tahun Baru, Polres Garut Pantau Jalan Rusak

Tidak pernah jadi headline yang salah.Tidak pernah jadi gosip yang murahan.Integritasnya sudah teruji. Berkali-kali.Maka wajar. Begitu selesai di KPU—ia tidak menghilang. Tidak mencari-cari jabatan.Justru kampus yang mencarinya.“Baliklah. Mengajar. Mengasuh. Memimpin.”

Ade pun kembali ke habitat aslinya: dunia ilmu. Bukan dunia janji. Bukan dunia tepuk tangan. Padahal kalau mau, ia bisa saja memilih jalan lain. Jalan yang lebih benderang. Yang lebih ramai.

Tapi Ade memilih jalan yang sepi: kampus.Ia mengajar di Prodi Pendidikan Agama Islam. Statusnya dosen tetap.Jabatannya Lektor. Pendidikannya S3.Lengkap. Tapi tetap saja sederhana.

Yang menarik adalah karakternya. Ia ramah. Ia rendah hati. Ia tidak sok tahu.Dan yang paling langka: ia tidak sok berilmu.

Padahal ilmunya banyak. Bukunya juga ada. Tulisannya tersebar. Ia rajin menulis refleksi. Tentang kampus. Tentang Milangkala. Tentang perjalanan STAI hingga menjadi IAI. Bahasanya jernih. Sejernih cara hidupnya.

Bagi mahasiswa, ia bukan dosen yang menakutkan. Bukan pula dosen yang terlalu santai. Ia tenang. Penyabar. Dan selalu memberi ruang dialog. Seolah ia sedang berkata, “Belajar itu bukan perlombaan. Tapi perjalanan.”

Sekarang ia Rektor. Tentu bebannya lebih berat. Kampus harus naik kelas. Mutu harus meningkat. Riset harus hidup.Mahasiswa harus merasa punya masa depan.

Baca Juga:Pungutan Retribusi Pasar di Tasikmalaya Wajib Dihentikan, Prosedur Penagihan DLH Cacat AdministrasiGandara Group Meluaskan Jejak Kebaikan, dari Tasikmalaya ke Pangandaran!

Belum lagi soal reputasi. Akreditasi.Digitalisasi. Kolaborasi. Tapi Ade bukan tipe yang panik. Ia sudah lama belajar satu hal saat menjadi Ketua KPU. Kalau integritas kuat, badai sebesar apa pun bisa dilewati.

Warga Tasikmalaya pun mengenalnya demikian. Tidak ribut. Tidak bising. Tapi selalu hadir ketika dibutuhkan. Kalau bicara, ia pelan. Kalimatnya pendek.Tapi isinya sering membuat orang berpikir lebih lama.

0 Komentar