Perguruan Tinggi Islam di Kota Tasikmalaya Butuh Sinergi Nyata, Bukan Sekadar Seremonial

perguruan tinggi Islam swasta di Kota Tasikmalaya
Dr. Ade Zaenul Muttaqien, S.Ag., M.Ag dilantik jadi Rektor Institut Agama Islam Tasikmalaya (IAIT) periode 2026-2031, Selasa (13/1/2026). Ayu Sabrina Barokah / Radar Tasikmalaya
0 Komentar

TASIKMALAYA, RADARTASIK.ID — Perguruan tinggi Islam swasta di Kota Tasikmalaya masih menghadapi tantangan klasik: potensi besar yang belum sepenuhnya terhubung dengan kebijakan daerah.

Isu itu mengemuka usai pelantikan Rektor Institut Agama Islam Tasikmalaya (IAIT), Dr. Ade Zaenul Muttaqien, S.Ag., M.Ag., yang menegaskan perlunya kolaborasi konkret antara kampus dan pemerintah daerah.

Ade yang resmi menjabat untuk periode 2026–2031 menilai, perguruan tinggi Islam swasta seharusnya tidak hanya diposisikan sebagai pelengkap sistem pendidikan, melainkan mitra strategis pembangunan sumber daya manusia di Kota Tasikmalaya.

Baca Juga:Suara Misterius dari Sumur Rumah Kosong, Damkar Kota Tasikmalaya Turun Tangan Selamatkan KucingBayar Parkir Rp2.000 Lebih Sakti dari Aturan, Dishub Kota Tasikmalaya Masih Adu Strategi di Lapangan

Salah satu target awal yang dipasang IAIT pada 2026 adalah menjaring hingga 600 mahasiswa baru.

Target tersebut, kata Ade, bukan sekadar soal angka, melainkan ukuran kepercayaan publik sekaligus cermin daya saing kampus swasta di tengah ketatnya kompetisi pendidikan tinggi.

“Jumlah mahasiswa bukan hanya administratif. Itu mencerminkan mutu, relevansi, dan sejauh mana kampus dipercaya masyarakat,” ujarnya, Selasa (13/1/2026).

Ia juga mengakui hubungan IAIT dengan Pemerintah Kota Tasikmalaya selama ini sudah berjalan.

Namun, keterlibatan pemerintah terhadap perguruan tinggi swasta dinilai masih terbatas dan belum menyentuh seluruh potensi yang ada.

Di Kota Tasikmalaya, lanjut Ade, terdapat banyak perguruan tinggi swasta dengan kapasitas dan keunggulan masing-masing.

Sayangnya, belum semuanya terakomodasi dalam program strategis daerah.

“Kerja sama sudah ada, tapi belum merata. Masih banyak kampus swasta yang potensinya belum benar-benar dirangkul,” katanya.

Baca Juga:Empat Lokasi Koperasi Merah Putih di Kota Tasikmalaya Mulai Progres, Fokus Bahan Pokok BersubsidiBudaya Tanpa Karcis Parkir di Kota Tasikmalaya Masih Sulit Diubah, Kolektor Jukir Akui Tak Mudah

Ade mendorong agar Pemkot Tasikmalaya membuka ruang kolaborasi yang lebih luas dan aplikatif, terutama dalam program pembangunan berbasis pendidikan.

Ia menilai program Tasik Pintar menjadi salah satu pintu masuk yang relevan, mengingat peran kampus sangat erat dengan penguatan kualitas sumber daya manusia.

IAIT, menurutnya, siap terlibat melalui penguatan akademik, pengabdian masyarakat, hingga pelibatan mahasiswa dalam program sosial-edukatif.

Kampus, tegas Ade, tidak boleh terkungkung di ruang akademik semata, tetapi harus hadir menjawab kebutuhan masyarakat.

Selain itu, program One Kelurahan One Hafiz (Ohan) juga disebut sebagai ruang kolaborasi yang potensial.

IAIT memiliki banyak mahasiswa penghafal Al-Qur’an, bahkan beberapa di antaranya telah menorehkan prestasi di tingkat nasional hingga internasional.

0 Komentar