“Kami sudah berupaya mengaktifkan pasar ini, tapi memang tidak semudah membangun fisiknya,” katanya.
Sebagai solusi jangka pendek, Pasar Purbaratu kerap dijadikan lokasi gerakan pangan murah dan Wangsit.
Namun kegiatan tersebut bersifat temporer, belum mampu menciptakan ekosistem ekonomi yang berkelanjutan.
Menurut Toni, memaksakan pasar buka setiap hari justru bukan solusi.
Baca Juga:Suara Misterius dari Sumur Rumah Kosong, Damkar Kota Tasikmalaya Turun Tangan Selamatkan KucingBayar Parkir Rp2.000 Lebih Sakti dari Aturan, Dishub Kota Tasikmalaya Masih Adu Strategi di Lapangan
Ia menilai perlu ada kesepakatan realistis antara warga dan pedagang soal pola operasional.
“Tidak harus setiap hari buka. Bisa seminggu sekali atau dua kali. Di daerah lain ada pasar reboan, pasar mingguan. Pasar itu soal kebutuhan dan kebiasaan, bukan sekadar bangunan,” jelasnya.
Pasar Purbaratu kini menjadi pengingat, bahwa di Kota Tasikmalaya, membangun pasar jauh lebih mudah dibanding membangun keramaian. (ayu sabrina barokah)
