Ketika Pelajar di Kota Tasikmalaya Melawan Arus Budaya Asing Lewat Aksi Seni Sunda

pelajar Kota Tasikmalaya lestarikan budaya Sunda
‎Siswa MTs Bahrul Ulum Awipari menampilkan seni tari tradisional Sunda dalam kegiatan Aksantara 2026, Senin-Selasa (12-13/1/2026). Istimewa for Radar Tasikmalaya
0 Komentar

TASIKMALAYA, RADARTASIK.ID — Di tengah gempuran budaya populer global, upaya menjaga identitas lokal tak bisa lagi sekadar slogan.

MTs Bahrul Ulum Awipari, Kota Tasikmalaya, memilih jalur konkret dengan menggelar Aksantara 2026 (Aksi Lestarikan Budaya Sunda), sebuah ruang seni yang mengajak pelajar kembali akrab dengan akar budayanya.

Kegiatan yang berlangsung selama dua hari, Senin–Selasa (12–13/1/2026) itu menjadi medium bagi siswa mengekspresikan bakat nonakademik sekaligus mempertegas posisi budaya Sunda di lingkungan sekolah.

Baca Juga:Kepala Daerah Jangan Tertipu Laporan Manis, Karcis Parkir di Kota Tasikmalaya Muncul Jika DimintaTarget Ohan Hafiz Kota Tasikmalaya Belum Terpenuhi, Syarat Wajib Hafal 5 Juz Jadi Kendala

Kepala MTs Bahrul Ulum, Salwa Qurroti Ayun S.Pd, menyebut Aksantara bukan sekadar ajang lomba, melainkan strategi pendidikan karakter berbasis kearifan lokal.

Menurutnya, pelestarian budaya harus dimulai dari ruang yang dekat dengan generasi muda.

“Aksantara kami rancang sebagai ruang aktualisasi seni siswa sekaligus penguatan identitas budaya Sunda. Anak-anak perlu tumbuh dengan rasa bangga terhadap budayanya sendiri, bukan sekadar menjadi penonton budaya luar,” ujarnya, Selasa (13/1/2026).

Ia menambahkan, kegiatan tersebut selaras dengan nilai Pancawaluya yang menjadi ruh pendidikan karakter di Jawa Barat: cageur, bageur, bener, pinter, dan singer.

Nilai-nilai itu, kata dia, tak cukup diajarkan secara teoritis, tetapi harus dihidupkan melalui praktik langsung.

Sementara itu, Koordinator Pembina OSIS MTs Bahrul Ulum, Gisni Muhammad Firdaus, menjelaskan Aksantara 2026 diisi berbagai lomba seni dan literasi bernuansa Sunda, mulai dari sajak, pupuh, biantara, drama, hingga poster budaya.

“Semua cabang lomba dirancang untuk melatih keberanian, kreativitas, dan kemampuan berekspresi siswa. Ini penting agar mereka tidak gagap tampil dan berani menyuarakan gagasannya,” katanya.

Antusiasme siswa pun terlihat tinggi sepanjang kegiatan.

Baca Juga:Suara Misterius dari Sumur Rumah Kosong, Damkar Kota Tasikmalaya Turun Tangan Selamatkan KucingBayar Parkir Rp2.000 Lebih Sakti dari Aturan, Dishub Kota Tasikmalaya Masih Adu Strategi di Lapangan

Selain menjadi ajang kompetisi, Aksantara juga menjelma sebagai hiburan edukatif yang mempertemukan seni, literasi, dan nilai lokal.

Di tengah derasnya arus budaya asing, langkah kecil dari sekolah ini menjadi penanda bahwa pelestarian budaya Sunda di Kota Tasikmalaya masih menemukan napasnya. (firgiawan)

0 Komentar