CIAMIS, RADARTASIK.ID – Kekecewaan warga Dusun Cikatomas, Desa Handapherang, Kecamatan Cijeungjing, memuncak setelah Jalan Raden Patih sepanjang sekitar 2,1 kilometer (km) tak kunjung diperbaiki selama bertahun-tahun. Sebagai bentuk protes, warga menanam pohon pisang di sejumlah titik jalan yang rusak parah.
Kerusakan Jalan Raden Patih telah berlangsung lama, bahkan terjadi selama dua kali pergantian kepala desa. Warga menilai berbagai usulan perbaikan yang disampaikan selama ini belum pernah berujung pada realisasi nyata.
Warga Dusun Cikatomas, Solihin, membenarkan aksi penanaman pohon pisang tersebut. Ia menyebut tindakan itu dilakukan setelah warga menggelar rapat bersama Pemerintah Desa Handapherang.
Baca Juga:Sekda Kabupaten Tasikmalaya Jadi Staf Ahli, Bupati Lakukan Rotasi dan Mutasi 24 PejabatGP Ansor Kabupaten Tasikmalaya Kuatkan Kader, Gelar Konsolidasi Organisasi di Enam Zona
“Warga pun memasang tanaman pisang dua hari lalu, habis rapat dengan pemerintah Desa Handapherang. Karena mengusulkan tahun berapa, sampai sekarang tak ada realisasinya,” katanya kepada Radar, Selasa (13/1/2026).
Menurutnya, masyarakat telah berulang kali meminta RT dan RW mengajukan perbaikan jalan ke pemerintah desa. Namun, hingga kini aspirasi tersebut belum terealisasi.
“Padahal permintaan masyarakat hanya perbaikan jalan seperti di tambal pada titik rusak yang parah. Tak perlu sampai jalan di hotmix,” ujarnya.
Kerusakan jalan tersebut juga berdampak langsung pada aktivitas ekonomi warga. Salah satunya dialami warga yang memiliki usaha telur ayam. Saat melintasi jalan rusak, telur kerap pecah akibat guncangan. “Sehingga inginnya jalan bagus supaya usahanya lancar,” katanya.
Ketua RW 06 Dusun Cikatomas Desa Handapherang yang enggan disebutkan namanya mengungkapkan, pihak RW telah berulang kali menyampaikan usulan perbaikan jalan, baik secara lisan dalam musyawarah desa maupun melalui komunikasi informal dengan Kepala Desa Handapherang.
“Saya ingat setiap tahunnya mengajukkan perbaikan jalan, mulai komunikasi tahun 2023, dijanjikan tahun 2024 dan 2025, akan tetapi masih belum terealisasi. Bahkan 2026 pun mencoba diusulkan, akan tetapi saat di musyawarah desanya tidak ada lagi,” ujarnya.
Ia menegaskan, masyarakat memahami keterbatasan keuangan desa. Namun, warga berharap pemerintah desa dapat mencari solusi terbaik, meski bersifat bertahap.
Baca Juga:Anggota DPRD Kabupaten Tasikmalaya Aldira Yusup Soroti Penutupan Tambang Emas: WPR Belum Dirasakan Rakyat!Anggota DPRD Jabar Arip Rachman Salurkan 2.500 kWh Listrik Gratis untuk Warga Kurang Mampu di Tasikmalaya
“Minta memang tidak muluk-muluk seperti di hotmix, cukup mungkin ditambal 10–30 meter dahulu tidak apa-apa,” katanya.
