RADARTASIK.ID –Ardon Jashari datang ke AC Milan dengan label besar, sorotan tajam, dan ekspektasi setinggi langit.
Namun, hingga kini, gelandang Swiss berusia 23 tahun itu masih kesulitan menemukan pijakan di San Siro.
Ironisnya, pada saat yang sama ia dinobatkan Pemain Terbaik Liga Jupiler Belgia, justru di tengah performanya yang melempem di Italia.
Baca Juga:4 Faktor yang Buat Real Madrid Pecat Xabi Alonso: Salah Satunya Tak Akur dengan Pemain SeniorSering Dinaungi Dewi Fortuna, Jurnalis Italia Sebut AC Milan Mirip Juventus Era Allegri
Dalam laga Serie A di Stadion Artemio Franchi, Jashari mendapat kepercayaan tampil sejak menit pertama melawan Fiorentina.
Itu adalah kesempatan langka, mengingat Massimiliano Allegri selama ini lebih sering mendudukannya di bangku cadangan.
Namun performanya jauh dari memuaskan. Ia terlihat kehilangan ritme, tidak agresif, dan kurang percaya diri dalam duel tengah lapangan.
Hasilnya? Digantikan di menit 60 oleh Adrien Rabiot, ketika Milan akhirnya hanya bermain imbang 1-1.
Satu jam setelah ditarik keluar, Jashari diterbangkan ke Ostend untuk menghadiri malam penghargaan sepak bola Belgia.
Ia diumumkan sebagai Pemain Terbaik Liga Jupiler, gelar yang mengejutkan banyak pihak tetapi sekaligus menegaskan kualitasnya sewaktu membela Club Brugge.
“Setelah pertandingan saya hanya punya 15 menit ke bandara,” kata Jashari.
Baca Juga:Dua Faktor Utama yang Membuat Raspadori Ragu Gabung AS RomaJuventus Akan Boyong Daniel Maldini Jika Gagal Rekrut Chiesa, Lazio Incar Alex Toth
“Ada van menunggu saya, dan saya hanya punya lima menit untuk berganti pakaian. Belgia dan Club Brugge selalu ada di hati saya,” lanjutnya.
AC Milan sebenarnya berharap Jashari menjadi pilar lini tengah dalam jangka panjang.
Rossoneri mendatangkannya dari Brugge dengan nilai hampir €40 juta, atau sekitar Rp680 miliar (kurs €1 = Rp17.000).
Nominal besar itu menjadi tekanan tersendiri—apalagi Milan belakangan jarang menggelontorkan dana sebesar itu dalam beberapa bursa transfer terakhir.
Namun statistiknya di Italia kontras dengan di Belgia, ia hanya mencatatkan 6 penampilan, 266 menit bermain dan nol kontribusi gol atau assist.
Banyak pihak menilai cedera fibula kanan yang dideritanya akibat benturan dengan Santiago Giménez saat latihan dan membuatnya absen selama tiga bulan yang menjadi turunnya performa Jashari.
Yang memperburuk situasi, kehadiran Luka Modric justru menggagalkan naskah besar Milan untuk Jashari.
Modric datang sebagai nama besar yang dianggap hanya “menambal pengalaman”, tetapi nyatanya tampil luar biasa, memimpin permainan dan menjadi motor kreatif di lini tengah.
