Tak jarang, isu-isu strategis ikut mengemuka.
Dari meja lain terdengar obrolan tentang arah pembangunan Kota Tasikmalaya lima tahun ke depan.
Program Makan Bergizi Gratis (MBG), angka kemiskinan, hingga data statistik yang terpampang di halaman koran pagi menjadi bahan diskusi. Santai, namun kritis. Ringan, tapi bernas.
Di ruang semacam inilah demokrasi bekerja dalam bentuk paling sehari-hari.
Tanpa mimbar, tanpa protokol. Warga membicarakan kebijakan publik dengan bahasa mereka sendiri, ditemani kopi yang mulai dingin.
Baca Juga:Empat Lokasi Koperasi Merah Putih di Kota Tasikmalaya Mulai Progres, Fokus Bahan Pokok BersubsidiBudaya Tanpa Karcis Parkir di Kota Tasikmalaya Masih Sulit Diubah, Kolektor Jukir Akui Tak Mudah
Di tengah keterbatasan ruang publik yang inklusif, kedai kopi menjelma rahim inspirasi. Ia menampung ide, merawat literasi, dan membuka ruang diplomasi warga.
Dari meja kecil di sudut kedai, perubahan sosial kerap menemukan titik awalnya —pelan, sederhana, namun penuh makna. (ayu sabrina barokah)
