TASIKMALAYA, RADARTASIK.ID — Asap tipis kopi yang mengepul kerap disalahartikan sebagai penanda waktu luang yang terbuang.
Padahal, di banyak sudut Kota Tasikmalaya, kedai kopi justru menjadi ruang produktif: tempat ide dilahirkan, gagasan diperdebatkan, dan kesadaran sosial tumbuh pelan-pelan.
Senin (12/1/2026) sore, suasana Veloce Coffee di wilayah Tawang terasa hidup.
Di satu meja, seorang pengunjung menatap layar laptopnya, menyesap Americano sambil menyelesaikan pekerjaan.
Baca Juga:Empat Lokasi Koperasi Merah Putih di Kota Tasikmalaya Mulai Progres, Fokus Bahan Pokok BersubsidiBudaya Tanpa Karcis Parkir di Kota Tasikmalaya Masih Sulit Diubah, Kolektor Jukir Akui Tak Mudah
Di meja lain, percakapan mengalir tentang rencana kerja, cerita keseharian, hingga tawa kecil yang memecah hening.
Tidak ada sekat jabatan, usia, atau latar belakang. Semua setara di hadapan secangkir kopi.
Di tengah hiruk-pikuk yang cair itulah, kedai kopi menjelma lebih dari sekadar tempat nongkrong.
Ia menjadi etalase sosial —ruang temu yang egaliter— di mana obrolan ringan bisa bertransformasi menjadi diskusi serius, bahkan benih diplomasi warga.
Radar Tasikmalaya bertemu Ramli, sosok yang meyakini bahwa buku dan kopi adalah pasangan serasi.
Sejak 2022, ia merintis komunitas belajar bernama Akar Pohon.
Di Veloce Coffee, kecintaannya pada literasi ia wujudkan lewat agenda rutin bertajuk Kamis Membaca.
Di sudut kedai, rak sederhana berisi puluhan buku berdiri tak mencolok dekat meja kasir.
Baca Juga:Lapangan Menyempit, Sepak Bola Menggeliat Jadi Industri: Alarm Budaya di Kota TasikmalayaNobar Persib vs Persija Jadi Magnet Kuliner di Kota Tasikmalaya
Siapa pun bebas memilih bacaan—dari sastra, pemikiran kritis, hingga isu-isu sosial yang lekat dengan kehidupan sehari-hari.
Kedai kopi ini tak hanya menawarkan menu minuman, tetapi juga ruang berpikir.
“Orang datang ke sini tanpa beban. Tidak ada suasana menggurui seperti di kelas,” ujar Ramli. “Mereka membaca, berdiskusi, dan berdebat secara alami.”
Peserta diskusi memang tak pernah ramai—kurang dari sepuluh orang rutin berkumpul setiap pekan.
Namun, justru di ruang kecil itu percakapan tumbuh mendalam.
Buku dibedah, gagasan dipertautkan dengan realitas sosial, dan persoalan generasi muda Kota Tasikmalaya dibicarakan tanpa naskah resmi.
Fenomena di Veloce Coffee bukan cerita tunggal.
Di banyak titik Kota Tasikmalaya, kedai kopi berfungsi sebagai ruang publik alternatif.
Ketika taman kota terbatas dan ruang dialog formal terasa kaku, kedai kopi mengambil peran: menjadi tempat bertukar pikiran, membangun jejaring, sekaligus menyalurkan aspirasi.
