Dramaturgi Politik PKK Kota Tasikmalaya

dramaturgi politik PKK Kota Tasikmalaya
Ketua TP PKK Kota Tasikmalaya, dr Elvira Kamarrow Putri saat menghadiri program PKK Goes to School. Ayu Sabrina Barokah / Radar Tasikmalaya
0 Komentar

Namun, perubahan cepat ini rupanya tak sepenuhnya diterima mereka yang lama berdiam di dalam tubuh PKK.

Masuknya figur baru dengan latar aktivisme dianggap menggeser pakem lama yang sudah bertahun-tahun mengakar.

Ali menilai PKK memiliki posisi strategis dalam peta kekuasaan lokal Kota Tasikmalaya.

Baca Juga:Budaya Tanpa Karcis Parkir di Kota Tasikmalaya Masih Sulit Diubah, Kolektor Jukir Akui Tak MudahLapangan Menyempit, Sepak Bola Menggeliat Jadi Industri: Alarm Budaya di Kota Tasikmalaya

Basis perempuan dan keluarga menjadikannya mesin sosial yang efektif—dan potensial secara politik.

“PKK itu langsung ke ibu-ibu. Kalau sudah ke perempuan dan anak, efek politiknya pasti ada. Lewat istri kepala daerah, itu efektif,” bebernya.

Ia tak menampik alasan kesehatan Rani bisa saja benar. Namun, Ali menilai selalu ada lapisan emosi dan kalkulasi dalam setiap keputusan politik.

“Gimmick politik. Sakit mungkin iya. Tapi apakah ada kekesalan? Bisa saja. Atau memang sudah ada kesepakatan sebelumnya,” ucapnya.

Belum disetujuinya surat pengunduran diri Rani pun, menurut Ali, bukan tanpa makna.

“Kalau langsung di-ACC, kesannya ke publik bisa jadi konflik terbuka. Seolah ada upaya menyingkirkan kubu tertentu. Ini juga bagian dari gimmick,” tambahnya.

Ia bahkan mengibaratkan dengan kondisi akademik. “Dosen sakit, diopname. Masa langsung disuruh mundur? Rugi,” sindirnya.

Baca Juga:Nobar Persib vs Persija Jadi Magnet Kuliner di Kota TasikmalayaDKKT Tegaskan Komite Kebudayaan Bukan Pembalikan Konsep, Melainkan Instrumen Pemajuan

Bagi Ali, pengunduran diri Rani tetap merupakan sikap politik, apa pun alasan formal yang disampaikan ke publik.

“Ini sinyal konflik. Sudah mulai ada proses bersih-bersih. Kalau memang tidak ada masalah, cukup rehat, tidak perlu mundur,” tegasnya.

Ali mengingatkan, PKK adalah organisasi yang memiliki dasar regulasi kuat dan basis massa perempuan yang besar.

Mundur dari dalamnya, menurut dia, adalah kerugian strategis—terutama jika masih ingin bertahan lama di panggung politik Kota Tasikmalaya.

Di PKK, rupanya bukan hanya program yang dipertaruhkan. Tapi juga panggung, peran, dan siapa yang bertahan di balik layar. (ayu sabrina barokah)

0 Komentar