TASIKMALAYA, RADARTASIK.ID — Politik kerap bekerja seperti panggung sandiwara. Ada dialog yang ditampilkan ke publik, ada pula manuver yang disimpan rapi di balik layar.
Narasi itulah yang mengemuka saat isu mundurnya Rani Permayani, istri Wakil Wali Kota Tasikmalaya, Diky Candra dari jajaran Tim Penggerak Pemberdayaan dan Kesejahteraan Keluarga (TP PKK) Kota Tasikmalaya mencuat ke permukaan.
Pengamat politik FISIP Universitas Siliwangi, Dr M Ali Andrias SIP MSi, membaca peristiwa ini bukan sekadar soal kesehatan, sebagaimana disampaikan Rani kepada publik.
Baca Juga:Budaya Tanpa Karcis Parkir di Kota Tasikmalaya Masih Sulit Diubah, Kolektor Jukir Akui Tak MudahLapangan Menyempit, Sepak Bola Menggeliat Jadi Industri: Alarm Budaya di Kota Tasikmalaya
Menurut Ali, langkah mundur dari posisi Ketua I TP PKK Kota Tasikmalaya tetap tak bisa dilepaskan dari aroma politik.
“Politik itu dramaturgi. Ada panggung depan yang rapi, ada panggung belakang yang penuh kalkulasi,” ujar Ali saat dimintai pandangannya, Sabtu (10/1/2026).
Rani sendiri mengaku telah mengajukan surat pengunduran diri sejak dua bulan lalu.
Surat itu, kata dia, sudah berada di meja Ketua TP PKK Kota Tasikmalaya, dr Elvira Kamarrow Putri, namun hingga kini belum juga mendapat persetujuan.
Isu ini tak berdiri sendirian. Informasi yang dihimpun Radar menyebut, sebelum Rani, setidaknya lima orang lebih dulu angkat kaki dari tubuh TP PKK Kota Tasikmalaya.
Dua di antaranya bahkan disebut-sebut merupakan istri kepala dinas. Fenomena ini menguatkan dugaan adanya dinamika internal yang tak biasa.
Frasa PKK tidak lagi sama menjadi kalimat yang kerap beredar di lingkar dalam. Sebuah kode halus tentang pergeseran arah dan kultur organisasi.
Baca Juga:Nobar Persib vs Persija Jadi Magnet Kuliner di Kota TasikmalayaDKKT Tegaskan Komite Kebudayaan Bukan Pembalikan Konsep, Melainkan Instrumen Pemajuan
Saat dikonfirmasi, dr Elvira Kamarrow Putri memilih irit bicara dan enggan memberi penjelasan terkait kabar pengunduran diri tersebut.
Di bawah kepemimpinan Elvira, PKK Kota Tasikmalaya memang melaju dengan kecepatan baru. Program-programnya tak lagi sekadar seremonial.
Dari PKK Goes to School, edukasi literasi, kampanye minum susu, hingga penguatan ibu rumah tangga agar berperan sebagai paralegal dalam kasus kekerasan seksual, semua digarap agresif.
Elvira secara terbuka mengakui mengajak aktivis perempuan masuk ke struktur kepengurusan.
Targetnya jelas: menggeser PKK dari organisasi pelengkap seremoni menjadi aktor advokasi sosial.
