TASIKMALAYA, RADARTASIK.ID — Menggali potensi retribusi parkir di Kota Tasikmalaya rupanya tak semudah membalik telapak tangan.
Di atas kertas, regulasi sudah ada. Di lapangan, kebiasaan lama justru lebih berkuasa.
Program inovasi Dinas Perhubungan (Dishub) pun harus berhadapan dengan budaya nyaman tanpa karcis yang telah mengakar puluhan tahun.
Baca Juga:Budaya Tanpa Karcis Parkir di Kota Tasikmalaya Masih Sulit Diubah, Kolektor Jukir Akui Tak MudahLapangan Menyempit, Sepak Bola Menggeliat Jadi Industri: Alarm Budaya di Kota Tasikmalaya
Sekretaris Dishub Kota Tasikmalaya, Jamaludin, mengakui kebijakan tarif parkir sejatinya masih mengacu pada skema lama, yakni Rp2.000 untuk kendaraan roda dua dan Rp3.000 untuk roda empat.
Namun, capaian retribusi yang tak kunjung menyentuh target membuat pimpinan Dishub memilih jalan evaluasi dan sosialisasi.
“Pak Kadis sedang ikhtiar mengevaluasi tahun sebelumnya yang tidak tercapai. Sekarang fokusnya sosialisasi dan menjalankan Perda,” ujar Jamaludin saat dikonfirmasi, Senin (12/1/2026).
Salah satu jurus yang ditempuh adalah pemasangan spanduk dan baliho bertuliskan parkir gratis tanpa karcis.
Sebuah pesan satir dari pemerintah kepada praktik parkir liar: tanpa karcis, jangan harap ada setoran resmi.
“Penarikan retribusi tanpa karcis itu ilegal. Kalau ilegal, ya ada pelanggaran di sana,” katanya.
Dishub menekankan kewajiban pemberian karcis bukan semata urusan jukir.
Pengguna jasa parkir juga diminta ikut naik kelas secara kesadaran. Sebab, kebiasaan membayar Rp2.000 untuk mobil —meski tarif resmi Rp3.000— sudah menjadi tradisi turun-temurun.
Baca Juga:Nobar Persib vs Persija Jadi Magnet Kuliner di Kota TasikmalayaDKKT Tegaskan Komite Kebudayaan Bukan Pembalikan Konsep, Melainkan Instrumen Pemajuan
“Di karcis tertulis Rp3.000, tapi masyarakat sudah nyaman ngasih Rp2.000. Jadi ini bukan cuma soal jukir, tapi pengguna juga harus konsisten,” terang Jamaludin.
Menurutnya, karcis parkir sejatinya bukan sekadar sobekan kertas, melainkan alat ukur.
Dari sana, potensi setoran jukir bisa dihitung —berapa per hari, per minggu, hingga per bulan.
Tanpa karcis, semua serba kira-kira, dan ujungnya potensi bocor di mana-mana.
Namun Dishub tak menampik, realitas di lapangan masih jauh dari harapan.
Sosialisasi yang baru berjalan sekitar dua bulan belum mampu menandingi kebiasaan lama yang sudah mendarah daging.
“Ini soal merubah karakter dan kebiasaan. Tidak mungkin rampung sebulan. Sosialisasi berjalan seiring parkir berjalan,” bebernya.
