RADARTASIK.ID – Pernah dianggap sebagai mesin uang paling aman, kini fenomena ruko kosong di kota justru menjadi pemandangan lazim yang memancing pertanyaan besar, apakah ruko masih relevan sebagai instrumen investasi atau perlahan berubah menjadi simbol aset mahal yang kehilangan fungsi ekonominya di tengah pergeseran perilaku konsumsi masyarakat.
Seperti dilansir dari kanal Embun Kata, memasuki tahun 2026, realitas tersebut mulai runtuh ketika biaya perawatan, pajak, keamanan, dan operasional ruko terus meningkat, sementara omzet usaha fisik tergerus oleh persaingan harga di platform digital yang membuat banyak penyewa menyadari bahwa menyewa ruko mahal tidak lagi sebanding dengan hasil bisnis yang diperoleh.
Kondisi ini diperparah oleh sikap sebagian pemilik aset yang masih memegang paradigma lama, sehingga penyebab ruko tidak laku sering kali bukan semata faktor pasar, melainkan ketidakmauan menyesuaikan harga sewa dengan realitas baru di mana akses kurir, parkir, dan efisiensi logistik jauh lebih penting daripada sekadar lalu lintas kendaraan.
Baca Juga:Oppo Reno 15 Series Tampil Maksimal, Kamera 200 MP dan Performa Kencang Ramaikan Kelas Menengah AtasHarga Emas Terus Bergerak, Ini Rincian Terbaru Antam dan Perhiasan yang Wajib Dicermati
Di sisi lain, perubahan perilaku konsumen yang semakin mengandalkan ponsel menjadikan ruko kehilangan fungsi utamanya sebagai etalase produk, karena media sosial dan aplikasi belanja telah mengambil alih peran promosi sekaligus transaksi secara lebih cepat, murah, dan terukur.
Situasi inilah yang menuntut pemilik aset untuk meninjau ulang investasi ruko di era digital, bukan lagi dengan pola beli lalu menunggu, melainkan dengan pendekatan aktif yang memandang ruko sebagai unit bisnis yang harus dikelola, diposisikan, dan dikembangkan sesuai kebutuhan pasar.
Pendekatan tersebut meniscayakan penerapan strategi adaptasi ruko modern, mulai dari spesialisasi fungsi, penyesuaian desain, efisiensi ruang, hingga kolaborasi antar pemilik untuk menciptakan nilai tambah yang tidak bisa ditiru oleh ruko konvensional yang kaku dan monoton.
Pada akhirnya, masa depan bisnis ruko tidak sepenuhnya suram, tetapi sangat bergantung pada keberanian pemiliknya untuk meninggalkan romantisme kejayaan masa lalu dan beradaptasi dengan ekosistem ekonomi baru yang bergerak cepat, digital, dan berbasis efisiensi.
