Namun ia juga menyoroti persoalan mendasar di Kota Tasikmalaya: minimnya fasilitas. Warisan lapangan sepak bola yang tersisa sangat terbatas, sementara kebutuhan terus meningkat.
Dampaknya, jalur menuju sepak bola prestasi dan profesional hanya bisa diakses mereka yang memiliki modal.
“Yang punya uang bisa masuk sekolah sepak bola atau akademi. Yang tidak, ya hanya bermain seadanya. Dulu kita semua merasakan main bola gratis di sore hari. Sekarang tidak sesederhana itu,” bebernya.
Baca Juga:Nobar Persib vs Persija Jadi Magnet Kuliner di Kota TasikmalayaDKKT Tegaskan Komite Kebudayaan Bukan Pembalikan Konsep, Melainkan Instrumen Pemajuan
Wahid mencontohkan, di pedesaan, sawah saat musim kemarau masih kerap menjadi lapangan dadakan. Sebuah adaptasi budaya yang lahir karena ketiadaan lahan resmi. Tradisi turnamen kampung pun perlahan menghilang di wilayah perkotaan.
Sementara itu, Kabid Pemuda dan Olahraga Disporabudpar Kota Tasikmalaya, Momon Suryaman, mengungkapkan pemerintah baru menyusun Detail Engineering Design (DED) untuk tiga lapangan sepak bola: Karikil, Sambong, dan Wirabuana.
Namun ia mengingatkan, lapangan di Kota Tasikmalaya memiliki fungsi sosial yang kompleks.
Bukan hanya untuk sepak bola, tetapi juga upacara, kesenian, hingga kegiatan kemasyarakatan.
“Kalau distandarkan penuh sebagai lapangan sepak bola, harus dipikirkan dampaknya. Akses masyarakat, perawatan, sampai kegiatan non-olahraga jangan sampai terpinggirkan,” katanya.
Ketua DKKT Kota Tasikmalaya, Tatang Supriatna Sumpena (Tatang Pahat), melihat persoalan ini dari sudut kebudayaan dan kebahagiaan warga.
Menurutnya, tingginya aktivitas publik di ruang-ruang tak resmi—dari perempatan hingga badan jalan—menjadi indikator bahwa masyarakat Kota Tasikmalaya sangat membutuhkan ruang publik.
Baca Juga:Dari ATCS hingga Pengeras Suara, Kota Tasikmalaya Menata Nuansa Islami Setiap Hari JumatKota Tasikmalaya Disiapkan Jadi Pusat Edukasi Arboretum Bambu
“Ketika jalan yang bukan ruang publik berubah jadi ruang berkumpul, itu tanda kebutuhan yang tidak terpenuhi,” tambahnya.
Ia menilai euforia sepak bola —termasuk saat Persikotas berprestasi— kerap tak berbanding lurus dengan keberpihakan pemerintah terhadap ruang publik.
“Sepak bola sering dijadikan kendaraan politik. Semua orang suka bola. Tapi keberpihakan terhadap lapangan dan ruang publik justru tertinggal,” katanya.
Tatang menegaskan, sepak bola yang mahal dan industrial justru berpotensi menjauh dari nilai dasarnya sebagai sarana sosialisasi, kebersamaan, dan kebudayaan rakyat.
