RADARTASIK.ID – Legenda pelatih Italia, Fabio Capello, kembali angkat suara mengenai performa AC Milan yang angin-anginan.
Dalam wawancara eksklusif dengan Gazzetta dello Sport, mantan pelatih Rossoneri itu mengupas penyebab mengapa Milan begitu sering kesulitan ketika berhadapan dengan klub papan bawah Serie A.
Capello menjelaskan bahwa perbedaan besar antara generasi Milan terdahulu dan skuad saat ini terletak pada struktur kompetisi dan kualitas kedalaman tim lawan.
Baca Juga:Media Italia: Daniel Maldini Jadi Rebutan Juventus, Lazio, dan NapoliSiapakah Joao Gomes? “Anjing Pemburu” Seharga Rp680 Miliar yang Diincar Napoli
Ia menyoroti aturan pergantian pemain sebagai salah satu faktor yang mengubah dinamika pertandingan.
“Dulu, tidak ada lima pergantian pemain. Bedanya? Simple,” ujar Capello.
“Tim-tim kecil datang ke San Siro dengan permainan fisik. Namun setelah satu jam, intensitas mereka menurun dan kualitas luar biasa Milan muncul,” lanjutnya.
“Sekarang, dengan lima pergantian, mereka bisa mengganti hampir separuh tim dan mempertahankan intensitas hingga akhir,” jelasnya.
Menurut Capello, Milan modern tidak lagi memiliki keunggulan kualitas absolut seperti era emas para pemain bintang.
Karena itu, hasil mengecewakan di kandang saat melawan tim yang secara materi jauh lebih lemah kini menjadi konsekuensi logis.
Capello kemudian menambahkan bahwa masalah lain Milan adalah inkonsistensi di sepanjang pertandingan.
Baca Juga:Butuh Pemain Bermental Juara, Juventus Serius Datangkan Bernardo SilvaJurnalis Italia Yakin Chivu Sudah Siapkan Jurus Jitu untuk Patahkan Kutukan Inter Lawan Conte
“Benar, Milan kekurangan kontinuitas dalam 90 menit. Mereka tampil baik hanya dalam fase-fase tertentu,” ucapnya.
“Melawan tim kecil, mereka kesulitan mengembangkan serangan karena kurangnya ruang. Ironisnya, Milan justru tampil lebih baik saat menghadapi tim besar yang berani menyerang, karena memberi ruang untuk transisi cepat,” paparnya.
Namun, Capello menegaskan bahwa masalah inti bukan semata-mata pada strategi pelatih Max Allegri—melainkan kualitas pemain yang tersedia.
“Saya selalu mengatakan tulang punggung tim terdiri dari empat sektor: kiper, bek tengah, playmaker, dan striker,” katanya.
“Inter punya struktur tersebut dengan level tinggi, Napoli juga. Milan jauh di bawahnya,” ulasnya.
Menurut Capello, Milan terlalu bergantung pada individu tertentu, termasuk Luka Modric, rekrutan veteran yang datang pada musim panas lalu dengan gaji sekitar €4 juta per tahun atau setara Rp68 miliar.
