Namun semakin lama, pendekatan itu terasa terlalu kaku. Milan terlihat kehabisan bensin, terutama Modric yang harus terus tampil tanpa rotasi cukup.
Loftus-Cheek memberi tenaga, tetapi kontribusi teknisnya tak selalu stabil. Fofana rajin berlari, namun minim efektivitas dalam duel penting.
Dengan kata lain, Milan tampak minim Rencana B. Ketika bertemu tim yang bertahan rapat seperti Genoa, Rossoneri tak punya variasi untuk mengubah tempo atau memecah kebuntuan.
Baca Juga:Jika Gagal Datangkan Chiesa, Juventus Siap Angkut Bomber Al ShababLazio Incar Daniel Maldini, Atalanta Siap Amankan Giovane Santana dari Incaran AS Roma
Ricci yang cerdas mengatur bola dan Jashari yang terbiasa menjadi penghubung antar lini sebenarnya menawarkan profil berbeda, jenis kualitas yang justru sering dibutuhkan menghadapi lawan defensif.
Pertanyaan besar pun muncul di kalangan pendukung dan pengamat:
Mengapa Milan menghabiskan investasi besar tanpa memberi menit bermain yang layak kepada dua aset barunya?
Dan sampai kapan Allegri akan memaksakan kombinasi gelandang yang sama ketika bukti di lapangan menunjukkan performanya mulai menurun?
Dengan banyaknya poin yang terbuang dalam laga-laga yang seharusnya bisa dimenangkan, wajar jika kritik makin keras.
Milan, di atas kertas, bisa berbuat lebih banyak. Dan mungkin, jawabannya ada pada dua nama yang sejauh ini hanya duduk menunggu: Jashari dan Ricci.
