RADARTASIK.ID – AC Milan kembali membuat para pendukungnya mengelus dada saat hampir dikalahkan Genoa di San Siro.
Untuk kelima kalinya musim ini, Rossoneri gagal tampil meyakinkan saat menghadapi tim yang secara kualitas berada di bawah mereka dan harus puas dengan hasil imbang 1-1 saat menjamu anak asuh De Rossi.
Kekalahan dan hasil imbang melawan lawan-lawan yang mestinya bisa ditaklukkan memunculkan pertanyaan besar: apakah Milan membuat kesalahan yang sama berulang kali tanpa mencari solusi nyata?
Baca Juga:Jika Gagal Datangkan Chiesa, Juventus Siap Angkut Bomber Al ShababLazio Incar Daniel Maldini, Atalanta Siap Amankan Giovane Santana dari Incaran AS Roma
Milan kini mengoleksi 39 poin dari 18 laga Serie A, torehan yang di atas kertas bukanlah hasil buruk.
Namun jika menelusuri lebih dalam perjalanan skuat Massimiliano Allegri sejak awal musim, muncul kesan bahwa Milan sering bermain jauh di bawah potensi terbaiknya.
Allegri sendiri berkali-kali menegaskan bahwa timnya belum berada di level Inter Milan atau Napoli.
Pernyataan tersebut memang terdengar pesimistis, tetapi realistis jika melihat proyek jangka panjang rival-rival langsung Milan – baik dari sisi investasi maupun fondasi skuad yang dirancang dalam 3–4 tahun terakhir.
Yang mengkhawatirkan, pola buruk Milan datang di laga-laga menghadapi tim papan bawah.
Ketika menghadapi Genoa, kesalahan yang sama seperti sebelumnya kembali berulang.
Lini tengah terlihat kelelahan, eksekusi serangan stagnan, dan kreativitas menghilang seiring turunnya fisik para pemain inti.
Di titik inilah kritik mulai mengarah pada keputusan Allegri di sektor gelandang.
Baca Juga:Inter Ajukan Tawaran Sebesar Rp375 Miliar untuk Anak Mantan Bintang AC Milan Berusia 18 TahunMoratti Tuding Wasit Italia Tidak Becus: “Di Zaman Saya Sepak Bola Dikendalikan Mafia”
Musim panas lalu, Milan mendatangkan dua nama muda yang digadang-gadang menjadi fondasi masa depan klub: Ardon Jashari dan Samuele Ricci.
Total investasi keduanya mencapai sekitar €60 juta atau setara Rp1,02 triliun. Namun ironisnya, keduanya hampir tak tersentuh.
Jashari baru tampil 36 menit di Serie A lantaran cedera panjang pada Agustus.
Sementara Ricci hanya lima kali menjadi starter, meski digaet dengan kesepakatan besar dan reputasi mengilap sebagai gelandang pengatur tempo.
Sikap Allegri tampak jelas: ia lebih mempercayakan lini tengah pada Modric, Rabiot, Fofana, dan Loftus-Cheek.
Pelatih asal Italia itu menuntut gelandang dengan fisik kuat, lari tanpa bola, serta kemampuan bertahan, kombinasi yang menurutnya belum sepenuhnya dimiliki Ricci dan Jashari.
