TASIKMALAYA, RADARTASIK.ID – Arboretum bambu adalah kawasan konservasi, koleksi, dan pelestarian yang didedikasikan khusus untuk berbagai jenis tanaman bambu.
Tempat ini berfungsi sebagai pusat penelitian, pendidikan lingkungan, sarana rekreasi, serta paru-paru hijau untuk menjaga ekosistem dan sumber mata air.
Arboretum ini sering menjadi laboratorium hidup dan museum bambu.
Khususnya di Kota Tasikmalaya, Pusat Edukasi Arboretum Bambu kini tengah disiapkan melalui program Jumat Menanam.
Baca Juga:58 Ribu Masjid Disasar, Kemenag Jabar Canangkan Gebber Masjid Serentak di 626 KecamatanDishub Dipanggil, Kepala Tak Hadir: Parkir Kota Tasikmalaya Kembali Digas dari Ruang RapatÂ
Jumat Menanam ini dilakukan di Blok Rancamerak, Kelurahan Linggajaya, Kecamatan Mangkubumi, Jumat (9/1/2026).
Kegiatan ini menjadi penanda awal rencana pembangunan kawasan arboretum bambu di Kota Tasikmalaya yang digagas Dinas Kehutanan Provinsi Jawa Barat bersama Pemerintah Kota Tasikmalaya.
Kepala Cabang Dinas Kehutanan Wilayah VI Jawa Barat, Agung Lukman, menyebut penanaman kali ini masih bersifat awal.
Sebanyak 45 pohon ditanam dengan berbagai jenis, mulai dari bambu, durian, mahoni, alpukat hingga mangga.
“Ini memang baru awalan, masih seremonial. Jumlahnya 45 pohon dulu. Tapi ini jadi pintu masuk pembangunan kawasan bambu atau arboretum di Kota Tasikmalaya,” ujar Agung.
Menurut Agung, lokasi Rancamerak dipilih setelah melalui diskusi dengan Pemkot Tasikmalaya.
Faktor kontur tanah dan kondisi lahan dinilai mendukung untuk pengembangan kawasan hijau berbasis bambu.
Baca Juga:Kurikulum Jadi Kunci, Wakasek SMP Swasta Kota Tasikmalaya Diminta Kawal Mutu SekolahRKPD 2027 Kota Tasikmalaya Mulai Digodok, Kemiskinan hingga Stunting Jadi PR Serius
Selain di Kota Tasikmalaya, pengembangan kawasan bambu juga direncanakan di wilayah kabupaten, tepatnya Kecamatan Salawu.
Alasannya, kawasan tersebut dikenal sebagai sentra perajin bambu.
“Di Salawu itu sentra pengrajin bambu, jadi relevan kalau dikembangkan arboretum juga. Kalau di sini, kita dorong sebagai lokasi edukasi,” katanya.
Dalam rencana arboretum, Dinas Kehutanan juga akan menanam berbagai jenis bambu, termasuk yang tidak berasal dari daerah setempat.
Beberapa di antaranya bambu wayah dan bambu beludru yang berasal dari luar negeri.
“Informasinya ada yang dari Cina dan Jepang. Kita naturalisasi saja, ditanam untuk kepentingan edukasi, bukan produksi,” jelas Agung.
Untuk tahap perencanaan, Dinas Kehutanan menargetkan rampung pada Februari–Maret 2026.
“Jenis bambu yang disiapkan bisa sampai 40 jenis. Minimal tidak kurang dari 20 jenis, ditambah tanaman buah-buahan,” kata Agung.
