RADARTASIK.ID – Ketika dunia masih dibayangi krisis pangan, swasembada pangan Indonesia justru menjelma menjadi kekuatan ekonomi baru yang mengubah wajah desa, pasar, dan arah kebijakan nasional.
Berdasarkan informasi yang dilansir dari kanal resmi Kementerian Pertanian RI yang merangkum capaian sektor pertanian nasional sepanjang tahun 2025 sebagai tonggak penting pembangunan ekonomi berbasis pangan.
Pangan tidak lagi diposisikan sekadar komoditas, melainkan fondasi strategis yang menentukan stabilitas ekonomi, sosial, dan politik sebuah negara.
Baca Juga:RedMagic 11 Pro Plus Tancap Gas, Evolusi Smartphone Gaming Masuk Fase BaruPasar Emas Bergerak Positif, Antam dan UBS Sama-Sama Menguat
Tahun 2025 menjadi momen bersejarah ketika Indonesia mencatatkan produksi dan cadangan beras pada level yang belum pernah terjadi sebelumnya.
Capaian ini menandai keberhasilan transformasi sektor pertanian yang selama ini kerap dipandang tertinggal dibanding sektor lain.
Dalam konteks ekonomi nasional, lonjakan produksi beras berdampak langsung pada penguatan daya tahan konsumsi domestik.
Data resmi menunjukkan produksi beras nasional tertinggi sejarah berhasil menembus angka 34,71 juta ton dalam satu tahun.
Angka tersebut bukan hanya memenuhi kebutuhan dalam negeri, tetapi juga membuka peluang ekspor yang memperbaiki neraca perdagangan.
Keberhasilan ini tidak hadir secara instan, melainkan lahir dari konsistensi arah pembangunan yang menempatkan petani sebagai subjek utama.
Melalui kebijakan pertanian pro petani, pemerintah mempercepat pembangunan irigasi, memperkuat penyuluhan, dan menata ulang distribusi sarana produksi.
Baca Juga:Motorola Razr 60 Ultra Hadirkan Identitas Baru HP Lipat dengan Sentuhan Klasik ModernIntip! Bocoran iQOO 15 Ultra, Indikasi Kuat Flagship Gaming Baru di Pasar Smartphone 2026
Langkah-langkah tersebut menciptakan efisiensi biaya sekaligus meningkatkan produktivitas di tingkat lahan.
Salah satu kebijakan krusial adalah penetapan harga gabah petani Indonesia sebesar Rp6.500 per kilogram sebagai bentuk perlindungan pendapatan.
Kebijakan harga tersebut memberi kepastian usaha sekaligus meningkatkan daya beli rumah tangga petani.
Di sisi lain, penurunan harga pupuk bersubsidi hingga 20 persen memperbaiki struktur biaya produksi pertanian.
Dampaknya terasa langsung pada margin keuntungan petani yang selama ini tertekan oleh fluktuasi input.
Kombinasi kebijakan harga dan distribusi input yang lebih sederhana membuat aktivitas tanam menjadi lebih terencana.
Hasil panen yang meningkat mendorong pemerintah mengambil keputusan strategis menghentikan impor beras medium.
Langkah ini secara global turut menekan harga beras dunia dan mengubah posisi tawar Indonesia di pasar internasional.
