Mungkin, sepulang dari Karawang, foto itu akan menghiasi dinding kantor. Menjadi arsip. Menjadi kenangan. Menjadi cerita yang diulang ketika tamu datang berkunjung.
Namun lebih dari itu, foto tersebut adalah pengingat bahwa Tasikmalaya punya ruang untuk melangkah lebih jauh. Bahwa daerah ini tidak hanya dikenal karena tradisinya, budayanya, atau Gunung Galunggungnya — tetapi juga karena kepemimpinan yang bergerak, mendekat, dan diapresiasi.
Pada akhirnya, yang terpenting bukan hanya gambar yang dibingkai rapi. Yang terpenting adalah pesan diam-diam yang ikut tertangkap kamera: Tasikmalaya tidak lagi di pinggir panggung. Ia kini ikut berdiri di tengah dan Presiden melihatnya. (red)
