TASIKMALAYA, RADARTASIK.ID – Siang itu bukan hanya tentang padi yang menguning dan mesin panen yang terus berdengung. Di antara genangan air dan lumpur yang mengering, ada momen kecil yang diam-diam meninggalkan jejak besar terutama bagi Tasikmalaya.
Di acara Panen Raya bersama Presiden Prabowo Subianto, di Cilebar, Karawang, Jawa Barat. Dua kepala daerah asal Priangan Timur ikut berdiri dalam barisan yang tidak semua orang bisa tempati: Wali Kota Tasikmalaya Viman Alfarizi dan Bupati Tasikmalaya Cecep Nurul Yakin.
Mereka tidak hanya hadir sebagai undangan. Tidak pula sekadar menjadi penonton di baris belakang.
Baca Juga:Dana Desa 2026 Terjun Bebas, Kades Harus Putar Otak untuk Penuhi Usulan MasyarakatSidang Duplik Selesai, Kelanjutan Nasib Terdakwa Endang Juta Ditentukan Pekan Depan
Pada satu titik, protokol memanggil, kamera disiapkan, barisan dirapikan dan Viman serta Cecep diajak masuk ke dalam satu frame foto resmi bersama Presiden, para menteri, dan para gubernur yang hadir.
Sebuah momentum. Sederhana dalam bentuk, besar dalam makna. Bayangkan suasananya.
Angin sawah bergerak pelan. Topi petani bergerak bersamaan. Wartawan berjajar menunggu sudut terbaik.
Di depan, Presiden berdiri santai dengan gaya khasnya. Di kanan dan kiri, para pejabat negara. Lalu, di antara mereka, dua sosok dari Tasikmalaya ikut berdiri menyatu dalam satu bingkai.
Namun ada pengakuan yang terasa diam-diam: Tasikmalaya hadir. Dan kehadirannya diperhitungkan.
Bagi Viman dan Cecep, itu mungkin hanya beberapa detik di depan kamera. Tapi bagi sebuah daerah, momen seperti itu adalah simbol. Simbol bahwa kiprah kepala daerahnya dikenal. Bahwa kerja-kerja mereka sampai juga ke radar pusat.
Apalagi ini bukan rapat tertutup. Bukan seremoni formal penuh protokol kaku. Ini panen raya tentang pangan, tentang perut jutaan rakyat Indonesia, tentang ketahanan negeri ini. Dan Tasikmalaya ikut duduk di meja pembicaraan besar itu.
Di banyak daerah, sering muncul satu keluhan, Daerah jauh dari pusat. Kadang tak terdengar. Namun hari itu, Tasikmalaya tidak lagi berdiri di luar pagar. Kepala daerahnya berada di lingkaran inti. Berbagi tempat bersama para pengambil kebijakan nasional. Itu adalah bentuk apresiasi.
Baca Juga:Kuota Dibeli Tapi Hangus Karna Dibatasi Masa Aktif, Masyarakat Priangan Timur Mengaku RugiPesan Kapolres Faruk Rozi: Menjaga Tasikmalaya, Menjaga Hati!
Apresiasi bukan berupa piagam. Bukan berupa plakat. Namun berupa kepercayaan untuk berada dekat. Dekat dengan Presiden. Dekat dengan pusat pengambilan keputusan. Dekat dengan harapan baru.
