TASIKMALAYA, RADARTASIK.ID – Menjamurnya kafe dan restoran di Kota Tasikmalaya dalam beberapa tahun terakhir dipandang sebagai sinyal kuat geliat perekonomian daerah yang terus bertumbuh.
Fenomena ini bukan sekadar perubahan tren gaya hidup masyarakat, melainkan juga menjadi indikator meningkatnya daya tarik Kota Tasikmalaya sebagai kota tujuan kunjungan.
Kehadiran ratusan kafe dan restoran membuat orang datang, berlama-lama dan membelanjakan uangnya di Tasikmalaya, sehingga perputaran ekonomi lokal semakin terasa.
Baca Juga:Tingkatkan Keterampilan Kader Posyandu, Dosen Poltekkes Tasikmalaya Beri Pelatihan Pengukuran Antropometri JNE Dukung Konser “Dua Delapan” Padi Reborn 2026 sebagai Mitra Logistik Resmi
Berdasarkan data pelaku usaha kuliner Kota Tasikmalaya tahun 2024-2025 yang dihimpun Dinas Kepemudaan, Olahraga, Kebudayaan dan Pariwisata (Disporabudpar), jumlah usaha kuliner di kota ini tergolong sangat besar. Tercatat kedai makanan mencapai 5.000 hingga 6.608 unit.
Selain itu terdapat 1.628 usaha makanan keliling atau tempat tidak tetap, 502 warung makan, 362 kedai minuman, 152 kafe, dan 101 restoran. Sementara penyediaan minuman keliling atau tidak tetap berjumlah 70 unit, serta restoran dan penyediaan makanan keliling lainnya sebanyak 60 unit. Data tersebut menunjukkan bahwa sektor kuliner telah menjadi salah satu tulang punggung ekonomi Kota Tasikmalaya.
Kepala Disporabudpar Kota Tasikmalaya, Deddy Mulyana, menilai perkembangan ini sebagai potensi besar dari sudut pandang kepariwisataan. Menurutnya, kafe dan restoran merupakan bagian penting dari fasilitas yang selalu dicari wisatawan. Ketika orang datang ke suatu daerah, mereka tentu memiliki tujuan.
“Di antaranya fasilitas tempat makan, tempat minum, tempat ngopi, dan tempat nongkrong. Itu bagian yang tidak bisa dipisahkan dari pariwisata,” katanya, Rabu (7/1/2026).
Lebih lanjut, Deddy menekankan bahwa maraknya kafe dan restoran berdampak langsung pada penyerapan tenaga kerja. Ia menegaskan bahwa pembukaan lapangan kerja ini menjadi efek positif yang nyata, karena pada umumnya tenaga kerja yang direkrut berasal dari masyarakat lokal.
“Yang pertama, kita menciptakan iklim tenaga kerja kepariwisataan yang akan banyak terserap. Misalnya barista, pramusaji, dan lain sebagainya,” katanya.
Namun, Deddy juga mengingatkan pentingnya komitmen pelaku usaha dalam menghadirkan dan memperkenalkan produk lokal. Ia menilai menu yang disajikan di kafe dan restoran tidak boleh semata mengikuti tren.
Baca Juga:Plaza Asia Salurkan Santunan untuk Keluarga Zaydan dan Bangun Tembok Pembatas SelokanAston Inn Tasikmalaya Sukses Gelar Dinner “Cinema All The Time”, Siap Bikin Gebrakan di 2026
“Kita harus tegas juga soal menu, makanan siap saji yang disajikan. Harus ada komitmen untuk memperkenalkan produk lokal, makanan khas Tasik, minuman khas Tasik,” ujarnya.
