Sebagai aktor, Tatang memainkan beragam lakon penting, mulai dari Macbeth, Caligula, Waiting for Godot, Oidipus Rex, Oidipus di Colonus, Antigone, Kaspar, Para Penjudi, hingga karya Putu Wijaya seperti Bila Malam Bertambah Malam. Pilihan lakon-lakon tersebut mencerminkan ketertarikannya pada tema-tema eksistensial, kekuasaan, konflik batin manusia, dan kritik sosial.
Di balik layar, ia juga dikenal sebagai sutradara produktif. Puluhan karya telah ia garap, di antaranya Syekh Siti Jenar, Panji Koming, Raja Ubu, Interogasi, Baradah, Satu Salah Paham, hingga Rumah Kertas. Dalam setiap garapan, Tatang dikenal konsisten menjaga disiplin artistik dan keberanian menyampaikan tafsir, tanpa tergoda pada kompromi instan.
Di luar panggung, Tatang aktif menulis esai budaya dan puisi. Karya-karyanya dimuat di berbagai media massa seperti Harian Pagi Radar Tasikmalaya, dan media bergengsi lainnya. Sebagian puisinya juga terdokumentasi dalam antologi bersama Kampung Bulan. Melalui tulisan, Tatang memperluas ruang refleksi dan kritik kebudayaan yang tidak selalu dapat disampaikan lewat pertunjukan.
Baca Juga:Tingkatkan Keterampilan Kader Posyandu, Dosen Poltekkes Tasikmalaya Beri Pelatihan Pengukuran Antropometri JNE Dukung Konser “Dua Delapan” Padi Reborn 2026 sebagai Mitra Logistik Resmi
Dalam berbagai wawancara dengan awak media, Tatang dikenal lugas dan kritis. Ia kerap menyoroti cara pandang pemerintah yang masih menempatkan seni dan budaya sebatas kegiatan seremonial. Dari perspektifnya, kebudayaan seharusnya menjadi bagian dari perencanaan jangka panjang, karena berkaitan langsung dengan identitas, memori kolektif, dan daya tahan masyarakat.
“Kebudayaan itu kerja panjang. Ia tidak bisa dikelola dengan cara instan atau sekadar mengejar agenda tahunan,” ujarnya dalam salah satu kesempatan.
Pengalaman panjang sebagai konseptor berbagai event budaya—mulai dari Festival Dogo Bengkok, Situ Gede Art Festival, Hajat Lembur, Ngarumat Lembur, hingga Solo Art Festival 50 Tahun Indonesia Emas—membuat Tatang memahami betul hubungan antara kebijakan, anggaran, dan keberlangsungan ekosistem seni. Ia terbiasa membaca celah, kekurangan, sekaligus potensi yang bisa dikembangkan secara lebih terarah.
Saat dipercaya memimpin DKKT, Tatang langsung menegaskan arah kerja kelembagaan. Penataan ulang struktur, penegasan bidang-bidang seni dan budaya, hingga penyiapan identitas kebudayaan daerah menjadi bagian dari agenda besar menuju 2026 dan seterusnya. Sikap kritisnya tetap dijaga, bukan sebagai oposisi, melainkan sebagai pengingat agar kebijakan tidak menjauh dari nilai kebudayaan itu sendiri.
