TASIKMALAYA, RADARTASIK.ID – Publik mengenalnya sebagai Tatang Pahat, ada yang mengira ia bergelut di bidang seni pahat. Tapi bukan itu alasannya. Nama aslinya adalah Tatang Suprihatna Sumpena, bukan sosok yang asing di lanskap kesenian dan kebudayaan Kota Tasikmalaya.
Ia dikenal sebagai figur yang konsisten menjaga sikap, tegas dalam pandangan, dan tidak canggung bersuara kritis ketika berbicara tentang seni, kebijakan, dan arah pembangunan kebudayaan. Dalam perjalanan panjangnya, Tatang tidak hanya hadir sebagai pelaku seni, tetapi juga sebagai penggerak, pengelola, sekaligus pengawas kultural terhadap dinamika pemerintahan.
Kepercayaan yang kini diembannya sebagai Ketua Dewan Kesenian dan Kebudayaan Kota Tasikmalaya (DKKT) masa bakti 2025–2030 menjadi penanda penting dari perjalanan tersebut. Jabatan itu bukan titik mula, melainkan kelanjutan dari proses panjang yang telah ia jalani sejak puluhan tahun lalu.
Baca Juga:Tingkatkan Keterampilan Kader Posyandu, Dosen Poltekkes Tasikmalaya Beri Pelatihan Pengukuran Antropometri JNE Dukung Konser “Dua Delapan” Padi Reborn 2026 sebagai Mitra Logistik Resmi
Tatang lahir di Tasikmalaya dan menetap di Cibangun Kaler, Kelurahan Ciherang, Kecamatan Cibeureum. Pendidikan formalnya ditempuh dari SDN Mangunreja 3 (1977–1983), SMPN Mangunreja (1983–1987), SMIKN Tasikmalaya (1987–1991), hingga melanjutkan studi ke STSI Bandung—kini ISBI Bandung—pada 1992 sampai 1999. Pendidikan seni di Bandung menjadi fase penting yang membentuk disiplin berpikir, keberanian tafsir, dan cara pandangnya dalam membaca relasi seni dengan realitas sosial.
Aktivitas berkesenian Tatang telah dimulai sejak 1985 dan terus berlanjut hingga kini. Ia terlibat aktif dalam berbagai kelompok teater dan komunitas budaya, bahkan menjadi pendiri di antaranya. Teater Dongkrak dan Study Oriented Culture Tasik (SOCT) menjadi ruang awal baginya untuk mengonsolidasikan kerja seni yang tidak hanya berorientasi pada produksi pertunjukan, tetapi juga pada kajian dan diskursus kebudayaan. Di SOCT, Tatang dipercaya sebagai ketua sekaligus pendiri.
Jejak keterlibatannya meluas ke berbagai kelompok teater lain seperti Teater Payung Hitam Bandung, Teater Alibi, Sanggar Kita, Studio Teater STSI Bandung, hingga Teater 28 Universitas Siliwangi Tasikmalaya. Ia juga turut mendirikan Kelompok Musik Setengah Tiang serta memimpin Yayasan Rawayan Ceta. Seluruh peran ini menunjukkan konsistensinya membangun ekosistem seni berbasis proses, jaringan, dan keberlanjutan.
