Tasikmalaya Terasa Lebih Dekat!

pisah sambut Kapolres Tasikmalaya Kota
Tokoh Masyarakat Silmi Abdussalam, Wali Kota Tasikmalaya Viman Alfarizi Ramadhan, Tokoh Masyarakat Yanto Oce dan Sekda Asep Goparullah saat menghadiri pisah sambut Kapolres Tasikmalaya Kota, Selasa (6/1/2026) malam. istimewa for radartasik.id
0 Komentar

Kacamata khasnya masih bertengger rapi. Sepatu pantofel hitamnya tetap mengilap. Tetapi yang paling tampak bukan itu. Yang berubah adalah caranya menyapa.

Setahun memimpin rupanya sudah cukup untuk membuat langkahnya lebih ringan. Bicaranya lebih cair. Gesturnya lebih santai. Bahkan, lebih sering berkelakar.

“Kapan main ke kantor?” katanya, sambil tersenyum.

“Kan saya sudah sering main ke kantor media. Sekarang gantianlah, teman-teman yang main ke kantor saya.”

Baca Juga:Setor Harian Parkir Ternyata Masih Abu-abu, Jukir di Kota Tasikmalaya Mengaku Pola Lama Belum BerubahPelantikan Kepsek Tertahan, 29 Bakal Calon Kepala Sekolah di Kota Tasikmalaya Masih Menggantung

Kalimat pendek. Tapi tidak kosong.Itu sebenarnya undangan untuk memperpendek jarak.

Karena hubungan pemerintah dan media memang tidak boleh berjauhan. Jika terlalu jauh, prasangka akan masuk lebih dulu sebelum fakta.

Malam itu, Viman tidak sedang “berperan sebagai wali kota”. Ia hanya berjalan biasa. Menyapa seperlunya. Dan sebelum meninggalkan acara, ia sempat berbincang santai dengan Sekda Asep Goparulloh. Tanpa dramatik. Tanpa panggung.

Di tengah suasana hangat itu, KH Miftah Fauzi menyampaikan petuahnya. Dengan nada khas—pelan, namun sampai.

Bahwa jabatan itu titipan. Bahwa amanah itu bukan untuk disombongkan. Bahwa masyarakat harus tetap dijaga kebersamaannya.

Dan bahwa sistem mungkin bisa membangun negara—tetapi doa dan ketulusanlah yang menjaga manusia.

Tidak ada tepuk tangan panjang. Karena sebagian orang memilih menyimpannya di hati.

Baca Juga:Faruk Pamit dengan Jejak Emosional, Andi Purwanto Siap Jaga Ritme Kota TasikmalayaIni Rekam Jejak AKBP Andi Purwanto, Kapolres Tasikmalaya Kota yang Baru

Saya melihat satu hal malam itu: Tasikmalaya sedang belajar tertawa dan merenung pada waktu yang sama.Belajar melepas seorang kapolres yang baik.

Dan belajar menyambut kapolres baru —dengan harapan yang tidak berlebihan, tapi tetap tulus.

Malam itu, Tasikmalaya terasa lebih dekat. Bukan karena jaraknya berubah. Tetapi karena orang-orangnya mau mendekat. (red)

0 Komentar