RADARTASIK.ID – AS Roma meraih kemenangan penting pada laga tandang Epifani, tetapi sorotan terbesar bukan datang dari lapangan.
Di tengah tiga poin krusial yang diraih di Via del Mare, pelatih Gian Piero Gasperini memilih membungkam diri.
Tidak ada konferensi pers, tidak ada komentar pascalaga—hanya keheningan yang lebih keras dari selebrasi kemenangan 2-0 atas Lecce.
Baca Juga:Michele Di Gregorio: Satu-satunya Pemain Juventus yang Tidak Dipuji Jurnalis Italia Usai Gebuk Sassuolo 3-0Inter Tak Puas dengan Tawaran Galatasaray, Frattesi Ngotot Pindah ke Juventus
Roma keluar sebagai pemenang melalui gol Lewis Ferguson dan Artem Dovbyk.
Secara hasil, ini adalah malam yang solid bagi Giallorossi: menang, tidak kebobolan, dan mengembalikan posisi ke jalur persaingan empat besar.
Namun sebagian pendukung justru merasakan euforia yang berbeda karena mengalahkan Lecce dipandang lebih sebagai kewajiban ketimbang prestasi besar.
Dalam 16 pertemuan terakhir Serie A, Roma menang 13 kali atas Lecce. Bahkan dalam sejarah panjang duel kedua klub, tim asal Salento hanya mampu mengalahkan Giallorossi dua kali dari 39 pertandingan liga—angka 5% yang hampir mustahil bagi tim lain.
Kemenangan ini juga memperpanjang catatan positif setelah dua kemenangan beruntun musim lalu atas lawan yang sama: 4-1 di Olimpico dan 1-0 di Lecce pada Maret.
Di balik data tersebut, kemenangan ini punya arti tersendiri karena Roma akhirnya mematahkan rekor buruk tandang yang mencoreng performa mereka sejak akhir November.
Sebelum laga ini, Roma kalah di tiga partai tandang berturut-turut—versus Cagliari, Juventus, dan Atalanta.
Baca Juga:Sulit Datangkan Raspadori atau Zirkzee, AS Roma Bidik Giovane dan Albert GudmundssonGagal Datangkan Joao Cancelo, Inter Incar Bek Sayap Fiorentina Incaran Napoli
Mereka juga melanglang buana selama 44 hari tanpa mampu mencetak gol di luar Olimpico.
Hasil inilah yang membawa mereka kembali ke jalur dengan total 36 poin dan mempertahankan posisi keempat klasemen.
Bagi Gasperini, kemenangan ini juga menandai pencapaian pribadi: rekor 1.000 poin sebagai pelatih di Serie A.
Namun, di balik milestone tersebut, badai masih menggelayut di Trigoria.
Menurut laporan Sky Sport, Gasperini menolak tampil di televisi maupun media cetak bukan karena ingin meredam perang psikologis, tetapi karena marah soal bursa transfer Januari.
Dalam beberapa pekan terakhir, ia terang-terangan meminta tambahan amunisi, terutama penyerang.
Keluhan itu berulang: skuad dianggap terlalu tipis dan minim opsi ofensif. Tetapi sejauh ini, klub hanya mendiskusikan nama, bukan mendatangkan pemain.
