Menurutnya, untuk parkir insidentil tidak ada target setoran seperti di lokasi reguler.
Setoran 30 persen baru dilakukan jika ada kegiatan yang menghasilkan pemasukan.
“Lamun aya kagiatan, beubeunangan sahari tetep diitung 70-30. Tapi lamun teu aya kagiatan, euweuh parkir, euweuh setoran,” jelasnya.
Ia mencontohkan saat Taman Kota digunakan untuk acara keagamaan atau panggung hiburan, justru area parkir bisa tertutup sehingga tidak menghasilkan pendapatan bagi jukir.
Baca Juga:Pelantikan Kepsek Tertahan, 29 Bakal Calon Kepala Sekolah di Kota Tasikmalaya Masih MenggantungFaruk Pamit dengan Jejak Emosional, Andi Purwanto Siap Jaga Ritme Kota Tasikmalaya
“Kawas kamari aya panggung, parkirna teu aya. Jadi teu aya nu disetor,” katanya.
Entis menambahkan, pengelolaan parkir di lokasi tersebut dilakukan secara kolektif tanpa pembagian zona tetap, agar pendapatan bisa dibagi rata antarjukir.
“Di dieu mah kolektipan, teu disekat. Supaya nu rame nutupan nu sepi,” pungkasnya.
Kondisi ini menunjukkan bahwa implementasi kebijakan setoran harian parkir di Kota Tasikmalaya masih menghadapi tantangan di lapangan, terutama terkait konsistensi penerapan dan perbedaan karakter lokasi parkir reguler dan insidentil. (rezza rizaldi)
