Santri Cipasung Inisiasi Pengelolaan Sampah Lewat Bank Sampah MBG

SAMPAH MBG CIPASUNG
Wakil Bupati Tasikmalaya Asep Sopari Al-Ayubi saat membuka Bank Sampah MBG di TPS Cipeundeuy Desa Cipakat, Kecamatan Singaparna, bersama bidang lingkungan hidup, Komisi III, pimpinan Ponpes Cipasung, dan CEO Bank Sampah MBG, Selasa (6/1/2026). (Diki Setiawan/radartasik.id)
0 Komentar

Anggota Komisi III DPRD Kabupaten Tasikmalaya Luthfi Hizba Rusydia juga mengapresiasi inisiatif pembentukan bank sampah yang dikelola oleh para santri Ponpes Cipasung. Menurutnya, sebagai mitra kerja bidang lingkungan hidup, Komisi III menilai langkah ini sebagai terobosan dan solusi atas persoalan sampah di daerah.

Ia menyebut sampah merupakan salah satu masalah besar di Kabupaten Tasikmalaya. Dengan adanya Bank Sampah MBG, menurut Luthfi, terbuka peluang bahwa sampah dapat dikelola dan dikembangkan dengan baik bersama masyarakat.

“Disatu sisi ada nilai ekonomis bagi masyarakat yang ikut dalam pengelolaan bank sampah ini, jadi ada pendauran ulang. Disisi lain kebersihan lingkungan bisa terjaga lebih bersih ketika sampah dikelola dengan baik,” jelasnya.

Baca Juga:Kuota Dibeli Tapi Hangus Karna Dibatasi Masa Aktif, Masyarakat Priangan Timur Mengaku RugiPesan Kapolres Faruk Rozi: Menjaga Tasikmalaya, Menjaga Hati!

CEO Bank Sampah MBG Ponpes Cipasung Muhammad Nazmi menjelaskan bahwa pembentukan bank sampah ini berawal dari persoalan sampah di Cipasung yang setiap harinya mencapai setengah hingga lima ton. Selama ini, penanganan sampah hanya sebatas memindahkan lokasi pembuangan.

“Yang tadinya ke sungai Cisaruni sekarang ke TPS Cipeundeuy. Akhirnya kita hanya bisa sedikit memberikan solusi. Maka kehadiran Bank Sampah MBG ini diharapkan menjadi solusi dalam pengelolaan sampah terpadu,” kata Nazmi.

Ia berharap Bank Sampah MBG dapat mendorong program pemerintah pusat terkait ketahanan pangan serta mendukung program pemerintah daerah. Menurutnya, pengelolaan sampah tidak hanya menyentuh aspek sosial, tetapi juga dapat menunjang kedaulatan pangan ke depan.

“Dapat memberikan solusi bukan hanya pada aspek sosial, tetapi menunjang kebutuhan kedaulatan pangan kedepan,” paparnya.

Pengelolaan sampah di Bank Sampah MBG dilakukan dengan memanfaatkan maggot untuk mengolah sampah organik, selain diolah menjadi pupuk kompos. Pupuk kompos tersebut nantinya dapat didistribusikan kepada petani, peternak, dan masyarakat yang ingin mendaur ulang sampah dari rumah sendiri.

Nazmi menyebutkan, di Kabupaten Tasikmalaya terdapat sekitar 180 dapur MBG yang menyumbang sekitar 5–10 persen dari total sampah. Dengan kehadiran Bank Sampah MBG, diharapkan jumlah sampah dapat dikurangi melalui pengolahan yang bernilai ekonomis dan ramah lingkungan.

“Jadi bukan hanya memberikan dampak kepada lingkungan tetapi memberdayakan masyarakat lokal. Sehingga memiliki kredit sosial dimana kedepannya ada kampanye bermitra dengan pemerintah, swasta, dan dapur MBG, keberlanjutan penanganan sampah dan menjadi pilot project kedepannya,” tambahnya. (Diki Setiawan)

0 Komentar