RADARTASIK.ID – Juventus kembali memamerkan kedalaman skuad dan ketangguhan mentalnya di awal paruh kedua musim ini.
Usai kekalahan mengejutkan dari Lecce, pasukan Luciano Spalletti membalas kritik dengan kemenangan telak 3-0 atas Sassuolo dan menggeser posisi AS Roma di urutan keempat dalam klasemen.
Performa apik Nyonya Tua di kandang lawan ini langsung mendapat sorotan positif dari jurnalis senior Italia, Sandro Sabatini.
Baca Juga:Inter Tak Puas dengan Tawaran Galatasaray, Frattesi Ngotot Pindah ke JuventusSulit Datangkan Raspadori atau Zirkzee, AS Roma Bidik Giovane dan Albert Gudmundsson
Dalam kolom analisanya di Calciomercato, Sabatini menilai jalannya pertandingan tidak sesuai dengan apa yang terlihat sekilas.
Menurutnya, meski dalam beberapa menit pertama pertandingan tampak seimbang. Namun hanya dalam hitungan waktu singkat, arah duel menjadi jelas: Juventus menguasai pertandingan dan memaksa Sassuolo bertahan total.
“Bahkan skor 0-3 seolah terlalu kecil melihat dominasi Juventus,” tulis Sabatini.
“Sassuolo sebenarnya tampil baik berdasarkan sumber daya dan kualitas pemain, tetapi ini bukan pertandingan yang berimbang,” ulasnya.
Juventus tampil agresif sejak awal. Bianconeri menekan tinggi, merebut bola cepat, dan menahan Sassuolo di daerahnya sendiri.
Sabatini menggambarkan Juve “mencekik” lawannya—memojokkan Neroverdi hingga ke dalam kotak penalti tanpa memberi ruang bernapas.
Semangat membara itu menurutnya bukan kebetulan, melainkan amarah balasan usai kritik yang menghujani tim setelah kekalahan dari Lecce.
Baca Juga:Gagal Datangkan Joao Cancelo, Inter Incar Bek Sayap Fiorentina Incaran NapoliLiverpool Ijinkan Chiesa Gabung Juventus dengan Satu Syarat
Salah satu momen menyentuh terjadi di menit-menit akhir ketika Jonathan David mencetak gol ketiga.
Penyerang Kanada itu disambut sorakan dan pelukan seluruh rekan setimnya dan Sabatini menyebut gol tersebut penting secara emosional.
“David membutuhkannya untuk membangkitkan kembali semangatnya setelah periode sulit,” paparnya.
Sabatini menilai hampir seluruh pemain Juve tampil prima—kecuali satu.
Ia menyebut kiper Michele Di Gregorio “tak cukup aktif untuk dinilai”, karena Juventus begitu dominan sampai pemain Sassuolo jarang menyentuh bola di sepertiga akhir.
“Pujian lebih pantas diberikan kepada kostum yang menghangatkannya di malam dingin,” kelakarnya.
Di lini belakang, Pierre Kalulu kembali menjadi pembeda setelah sebelumnya mencetak gol di Pisa.
Bek asal Prancis itu terlibat dalam gol bunuh diri Muharremovic yang membuka skor.
