TASIKMALAYA, RADARTASIK.ID — Sampah plastik ukuran mikro jenis styforoam atau polystyrene mendominasi temuan penyisiran penyebab genangan air beberapa waktu terakhir.
Temuan itu hampir serupa setiap kali petugas mengecek sejumlah drainase di Kota Tasikmalaya.
Dominasi mikroplastik tersebut bukan muncul tiba-tiba.
Ia adalah residu paling nyata dari pola konsumsi harian masyarakat kota.
Baca Juga:Ketua PKK Bukan Warisan Buku Nikah, Founder Ladysspeak Desak Revisi Permendagri 36/2020Kas Penuh, Hak Tertahan: Paradoks Anggaran Awal Tahun di Kota Tasikmalaya
Kemasan makanan sekali pakai, wadah minuman, hingga pelindung makanan yang kerap digunakan di tingkat rumah tangga dan usaha kecil, perlahan terfragmentasi menjadi partikel kecil yang mudah hanyut bersama air hujan.
Dari halaman rumah, selokan kecil, hingga akhirnya berkumpul di drainase dan sungai.
Kepala Bidang Sumber Daya Air (SDA) Dinas Pekerjaan Umum dan Tata Ruang (PUTR) Kota Tasikmalaya, Rino Isa Muharam, mengatakan bahwa temuan styrofoam berukuran mikro hampir selalu muncul dalam setiap kegiatan susur saluran.
Baik di pintu-pintu air maupun di alur drainase utama, jenis sampah ini menjadi yang paling sering menyumbat aliran.
Dinas PUTR melakukan susur saluran sungai pada Sabtu (3/1/2026) untuk memetakan titik-titik luapan sekaligus mencari penyebab genangan yang terus berulang setiap kali hujan lebat.
Dari hasil penyisiran tersebut, satu kesimpulan mengemuka: hujan deras bukan satu-satunya biang masalah. Sampah dan sedimentasi menjadi faktor yang secara konsisten memperparah kondisi.
Ironisnya, saluran air yang dipenuhi mikroplastik itu baru saja dibersihkan.
Rino menyebut pembersihan terakhir dilakukan pada 1 Januari 2026.
Namun hanya berselang dua hari, saluran kembali dipenuhi sampah.
Sampah domestik yang seharusnya berakhir di tempat penampungan, justru terus menemukan jalannya sendiri menuju saluran air.
Kondisi ini diperkuat oleh data komposisi sampah Kota Tasikmalaya.
Baca Juga:Ramai Skema, Sepi Ketuntasan: PAD Parkir Kota Tasikmalaya Terus Dikejar Walaupun Masih BerceceranIstri Wakil Wali Kota Tasikmalaya Mundur dari PKK, ini Alasannya
Kepala Bidang Pengelola Sampah pada Dinas Lingkungan Hidup, Feri Arif Maulana, menyebutkan bahwa dalam kegiatan pembersihan di Sungai Cibadodon Jalan HZ Mustofa dan saluran Ciromban Jalan Sutisna Senjaya, volume sampah yang terangkut mencapai dua kontainer atau sekitar 12 meter kubik.
“Memang dominasi plastik, termasuk kemasan sekali pakai styrofoam,” kata Feri.
Dari sisi komposisi, data pengukuran menunjukkan:
• Sampah makanan: 34,93 persen.
