Opsi tersebut dapat berubah menjadi kewajiban pembelian jika sejumlah kondisi tertentu terpenuhi.
Di sinilah letak perbedaan pandangan. Inter menginginkan jaminan yang lebih pasti terkait kewajiban pembelian.
Nerazzurri berharap klausul tersebut bisa dipicu dengan syarat yang jelas, mudah diverifikasi, atau bahkan langsung bersifat wajib sejak awal.
Baca Juga:Tak Ingin Lepas Davide Frattesi ke Juventus, Inter Terima Tawaran GalatasarayMaresca Tolak Pesangon Rp290 M dari Chelsea, Direktur Atletico Kesal Raspadori Jadi Rebutan Lazio dan AS Roma
Total nilai kesepakatan yang mencapai 35 juta euro, sekitar Rp595 miliar, dinilai sudah sesuai, tetapi kepastian pencairan dana menjadi fokus utama manajemen.
Bagi Inter, kepastian finansial dari penjualan Frattesi sangat penting.
Dana tersebut akan menjadi modal untuk bergerak di bursa transfer Januari, terutama untuk mencari pengganti yang sepadan di lini tengah atau memperkuat sektor lain.
Menemukan gelandang fisik dengan profil mirip Koné di tengah musim bukan perkara mudah. Karena itu, manajemen mempertimbangkan opsi untuk mengalihkan anggaran ke sektor sayap kanan.
Dalam konteks ini, nama Joao Cancelo kembali mencuat sebagai target utama untuk menutup lubang yang ditinggalkan cedera Denzel Dumfries.
Penjualan Frattesi ke Galatasaray diyakini bisa membuka ruang finansial yang cukup bagi Inter untuk mengejar bek sayap berpengalaman tersebut.
Dengan dinamika yang terus bergerak cepat, keputusan Frattesi tampaknya tinggal menunggu waktu.
Jika kesepakatan antarklub tercapai, kepindahan ke Istanbul bukan hanya menjadi langkah besar dalam kariernya, tetapi juga simbol perubahan arah bagi Inter di sisa musim kompetisi.
